MEMUAT BERITA...

Ekspor Pakaian Rajutan RI ke AS Tumbuh 8,39 Persen, Sokong Surplus Perdagangan Nonmigas

Tim Towa - Towa News
Rabu, 02 September 2026 14:28 WIB
Ekspor Pakaian Rajutan RI ke AS Tumbuh 8,39 Persen, Sokong Surplus Perdagangan Nonmigas
Ilustrasi Ekspor (dok.towa)

Towa News, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor produk pakaian dan aksesorinya berbahan rajutan asal Indonesia ke Amerika Serikat mencapai US$1,70 miliar sepanjang Januari–Juli 2026, tumbuh 8,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data ini diumumkan BPS dalam Berita Resmi Statistik (BRS) bertajuk "Ekspor dan Impor" yang dirilis di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Kepala BPS, dalam BRS tersebut, menyebutkan bahwa produk pakaian rajutan dengan kode Harmonized System (HS) 61 menjadi salah satu dari tiga golongan barang utama yang diekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat, dengan pangsa (share) 8,88 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia ke negara itu.

"Ekspor Nonmigas ke Amerika Serikat: US$19,19 Miliar, utamanya: mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), alas kaki (HS 64), serta pakaian dan aksesorinya rajutan (HS 61)," demikian tertulis dalam BRS BPS No. 88/09/Th. XXIX.

BPS turut mencatat bahwa produk pakaian rajutan berkontribusi signifikan terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat. Berdasarkan data kumulatif Januari–Juli 2026, komoditas ini menyumbang surplus sebesar US$1,70 miliar, menempatkannya sebagai penyumbang surplus terbesar kedua dari Amerika Serikat setelah mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) yang menyumbang US$2,45 miliar.

Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat pada periode tersebut mengalami surplus US$12,81 miliar, dari nilai ekspor US$19,19 miliar dan impor US$6,38 miliar.

BPS menjelaskan bahwa kenaikan ekspor nonmigas nasional, termasuk sektor tekstil dan pakaian jadi yang berada dalam kategori industri pengolahan, turut ditopang oleh pertumbuhan sektor tersebut secara tahunan.

"Kenaikan nilai ekspor nonmigas secara tahunan utamanya didorong oleh sektor Industri Pengolahan. Nilai ekspor Industri Pengolahan naik 6,03 persen pada Juli 2026 (y-on-y) dengan andil kenaikan sebesar 5,01 persen," tulis BPS dalam rilis yang sama.

Dari sisi harga, BPS juga mencatat pergerakan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) untuk kelompok yang mencakup produk tekstil, pakaian, dan produk kulit. Pada Agustus 2026, kelompok ini mengalami inflasi bulanan (m-to-m) sebesar 0,55 persen dengan andil 0,17 persen, serta inflasi tahunan (y-on-y) sebesar 4,52 persen dengan andil 1,45 persen terhadap inflasi IHPB umum nasional.

Secara nasional, BPS mencatat total nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar, naik 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sementara nilai impor tercatat US$163,33 miliar, sehingga neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$3,70 miliar pada periode tersebut.

Sumber: BPS (Badan Pusat Statistik)

Bagikan Artikel:

Diskusi & Komentar

Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!

Masuk untuk Bergabung ke Diskusi