AS Buka Peluang Kerja Sama Nuklir dan Jasa Keuangan dengan Indonesia

Tim Towa - Towa News
Rabu, 08 Juli 2026 13:21 WIB
AS Buka Peluang Kerja Sama Nuklir dan Jasa Keuangan dengan Indonesia
(dok.istimewa)

Towa News, Jakarta – Lembaga pembiayaan pembangunan milik pemerintah Amerika Serikat, U.S. International Development Finance Corporation (DFC), mengungkapkan adanya sejumlah peluang kolaborasi baru dengan Indonesia, mulai dari sektor energi nuklir hingga jasa keuangan.

Kepala Bidang Kebijakan DFC Caroline Vik menyampaikan hal tersebut usai melakukan pertemuan dengan para pelaku sektor swasta di Indonesia. Ia menyebut diskusi tersebut membuka sejumlah peluang kerja sama yang cukup menjanjikan.

“Pertemuan kami dengan pelaku sektor swasta (di Indonesia) mengungkapkan berbagai peluang menarik di bidang energi nuklir dan jasa keuangan,” kata Kepala Bidang Kebijakan DFC Caroline Vik seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (9/7).

Selain dengan kalangan swasta, Vik juga menjajaki peluang kerja sama dengan pemerintah Indonesia di berbagai bidang, di antaranya transportasi, infrastruktur, pembangunan pelabuhan baru, serta penambangan dan pengolahan mineral kritis.

Ia menambahkan, pembahasan turut menyentuh agenda pemerintah Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi nasional, baik melalui eksplorasi hulu maupun pengembangan infrastruktur penyimpanan dan transportasi energi di sektor menengah.

“Kami juga membahas mengenai fokus utama pemerintah dalam meningkatkan ketahanan energi melalui eksplorasi hulu (upstream) serta infrastruktur penyimpanan dan transportasi energi tingkat menengah (midstream),” ujar Caroline Vik.

DFC merupakan lembaga keuangan pembangunan pemerintah AS yang berperan penting dalam mendukung diplomasi ekonomi negara tersebut. Lembaga ini bertugas mengelola serta menyalurkan pembiayaan dari sektor swasta guna mendukung kebijakan luar negeri dan agenda pembangunan ekonomi strategis Amerika Serikat.

Setelah mendapatkan perluasan kewenangan dari Kongres AS, kapasitas investasi DFC melonjak dari 60 miliar dolar AS atau sekitar Rp1,08 kuadriliun menjadi 205 miliar dolar AS atau setara Rp4,49 kuadriliun, berdasarkan kurs Rp17.984 per dolar AS pada Rabu pagi.

Sebelum tiba di Jakarta, Caroline Vik telah mengunjungi sejumlah negara Asia Tenggara lainnya, yakni Manila, Hanoi, Phnom Penh, Vientiane, dan Kuala Lumpur, dalam rentang waktu 19 hingga 25 Juni.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, ia bertemu dengan berbagai pejabat pemerintah dan pelaku usaha untuk memperkuat kemitraan ekonomi strategis serta mendorong keamanan ekonomi kawasan. Pertemuan itu juga menjajaki potensi investasi di sejumlah sektor prioritas, seperti energi, teknologi, mineral kritis, keamanan rantai pasok, farmasi, hingga infrastruktur strategis dan digital.

Bagikan Artikel:

Diskusi & Komentar

Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!

Masuk untuk Bergabung ke Diskusi