Towa News, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti potensi besar teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) dalam mendukung transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih cerdas dan efisien. Hal ini mengemuka dalam webinar bertema smart farming yang digelar Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) BRIN secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Kepala PRMC BRIN, Prof. Yanuandri Putrasari, mengatakan sektor pertanian nasional saat ini menghadapi sejumlah tantangan serius, mulai dari keterbatasan lahan, dampak perubahan iklim, hingga persoalan efisiensi sumber daya dan regenerasi petani. Menurutnya, perkembangan AI dan IoT membuka peluang untuk menjawab tantangan tersebut melalui penerapan teknologi cerdas di lapangan.
“Pemanfaatan AI dan IoT dalam smart farming menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem pertanian yang lebih cerdas dan adaptif. Melalui integrasi sensor, otomasi, dan analisis data, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung efisiensi serta meningkatkan kualitas pengelolaan pertanian,” kata Yanuandri seperti dikutip dari siaran pers BRIN, Sabtu (22/8).
Ia menjelaskan bahwa IoT berperan memantau kondisi lahan, tanaman, dan lingkungan secara real-time melalui jaringan sensor yang tersebar di area pertanian. Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan AI untuk menghasilkan informasi dan rekomendasi bagi petani maupun pengelola lahan.
“Sementara itu, AI dapat mengolah data yang dihasilkan menjadi informasi dan rekomendasi untuk mendukung pengambilan keputusan, seperti prediksi hasil panen, deteksi hama dan penyakit, serta optimasi irigasi dan pemupukan,” ujar Yanuandri dalam siaran pers yang sama.
Kombinasi kedua teknologi ini disebut menjadi kunci pergeseran dari pola pertanian konvensional menuju pertanian presisi atau precision agriculture, yang dinilai lebih responsif terhadap perubahan kondisi lingkungan serta kebutuhan pengelolaan usaha tani secara menyeluruh.
Webinar tersebut menampilkan tiga pembicara dari latar belakang berbeda. Andri Prima Nugroho, dosen sekaligus peneliti dari Universitas Gadjah Mada, membawakan materi mengenai penerjemahan aspek fisiologi tanaman ke dalam pengambilan keputusan smart farming berbasis AI dan IoT.
Peneliti PRMC BRIN, Prof. Hanif Fakhrurroja, memaparkan perkembangan teknologi media tanam melalui pemanfaatan nanobubbles yang dipadukan dengan IoT, AI, dan analisis data. Adapun peneliti PRMC BRIN lainnya, Muhtadan, membahas penerapan computer vision dan edge AI untuk kebutuhan smart farming industri di Indonesia.
Kegiatan ini terbuka bagi kalangan umum, termasuk peneliti, dosen, mahasiswa, praktisi pertanian, pengembang teknologi AI dan IoT, hingga masyarakat yang tertarik pada inovasi instrumentasi cerdas di bidang pertanian.
Selain menjadi forum diskusi ilmiah, webinar ini diharapkan dapat memperluas pemahaman peserta terkait penerapan sistem pertanian berbasis sensor dan otomasi, sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan praktisi di sektor teknologi pertanian.
Melalui kegiatan tersebut, BRIN berupaya mendorong penguatan riset dan kolaborasi lintas disiplin dalam pengembangan pertanian cerdas, sekaligus mendukung arah riset instrumentasi yang lebih adaptif dan berkelanjutan bagi sektor pertanian nasional.
Diskusi & Komentar
Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!