Towa News, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perekonomian nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year) pada triwulan II 2026. Angka ini sedikit melandai dibandingkan capaian triwulan I 2026 yang berada di level 5,61 persen.
Berdasarkan perhitungan BPS, Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada periode tersebut tercatat Rp6.552,1 triliun, sementara PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp3.576,2 triliun. Nilai ini naik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp3.396,6 triliun.
“Ekonomi Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto pada triwulan II 2026 atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.552,1 triliun, dan atas dasar harga konstan Rp3.576,2 triliun,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8).
BPS menyebut perlambatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya tidak lepas dari meningkatnya tekanan ekonomi global. Sepanjang triwulan II 2026, dunia diwarnai memanasnya konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia serta gangguan rantai pasok internasional, terutama menyusul penutupan Selat Hormuz sebagai jalur strategis perdagangan energi global.
Situasi tersebut turut mendorong ketidakpastian di pasar keuangan internasional, sehingga sejumlah bank sentral di berbagai negara memilih mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi dan menjaga stabilitas pasar.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 secara tahunan mencapai 5,29 persen,” ujar Edy Mahmud, Rabu (5/8).
Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Jadi Penopang
Meski dibayangi tekanan eksternal, BPS menilai aktivitas ekonomi domestik masih bergerak positif. Konsumsi masyarakat dan investasi disebut menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional pada periode ini.
Beberapa faktor yang turut memperkuat kinerja ekonomi antara lain pencairan gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara, anggota TNI, dan Polri, peningkatan realisasi investasi, membaiknya penjualan ritel, serta kenaikan penjualan kendaraan bermotor.
Dengan berbagai faktor pendukung tersebut, permintaan domestik dinilai masih mampu menahan laju pertumbuhan ekonomi kendati kondisi global belum sepenuhnya stabil.
Tetap di Jalur Ekspansi
Dengan pertumbuhan sebesar 5,29 persen pada triwulan II 2026, perekonomian Indonesia dinilai masih berada dalam jalur ekspansi. Tantangan utama pada paruh kedua 2026 diperkirakan tetap datang dari dinamika ekonomi global, sementara konsumsi rumah tangga dan investasi diharapkan terus menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Diskusi & Komentar
Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!