Dipublish oleh Tim Towa | 12 Februari 2026, 17:32 WIB
Towa News, Tasikmalaya - Gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk menggulirkan program Gentengisasi mengembalikan optimisme para pengrajin genteng tradisional di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat. Inisiatif ini dinilai sebagai angin segar bagi pelaku usaha kecil yang nyaris punah akibat lesunya permintaan pasar.
Nurdin, salah satu pengrajin genteng tanah liat dari Kampung Ablok, Kelurahan Sinar Galih, Kecamatan Langensari, Kabupaten Banjar, mengungkapkan kegembiraannya atas rencana tersebut. Ia mengaku telah lama vakum dari produksi genteng karena minimnya pesanan, padahal usaha ini menjadi tumpuan hidup keluarganya sejak dulu.
"Semoga Pak Presiden Prabowo mau memperhatikan pengrajin kecil yang sudah hampir punah ini. Di Langen (Kecamatan Langensari) tinggal satu-satunya saya (pengrajin) yang masih bertahan," ujar Nurdin dalam Sarasehan Ekonomi Kerakyatan bertema "Dari Tanah Menjadi Atap: Industri Genteng Tradisional Perkuat Kemandirian Ekonomi" di Tasikmalaya, Kamis (12/2).
Nurdin menuturkan, puncak permintaan genteng sempat terjadi pada 2015, namun terus merosot pada tahun-tahun berikutnya. Demi mempertahankan penghasilan, ia terpaksa beralih memproduksi bata tanah. Baginya, program Gentengisasi ibarat "kabar dari surga" yang ditunggu-tunggu.
Para pengrajin genteng di Banjar mengaku sudah bertahun-tahun tidak merasakan perhatian pemerintah. Mereka menilai komitmen Prabowo untuk menggerakkan Gentengisasi sebagai bentuk keberpihakan nyata kepada pelaku usaha rakyat kecil.
Edy Suroso, pengajar Program Pascasarjana Universitas Siliwangi Tasikmalaya, menyebut Gentengisasi sebagai program strategis yang lahir dari visi ekonomi kerakyatan Presiden Prabowo. Menurutnya, program ini mencerminkan kepekaan pemimpin terhadap kondisi masyarakat bawah.
"Belum lagi industri genteng yang dikerjakan rakyat memiliki serapan tenaga kerja, memutar ekonomi lokal dan identitas dari kearifan lokal," kata Edy dalam kesempatan yang sama.
Ia menambahkan, Gentengisasi memiliki karakteristik ekonomi kerakyatan berbasis padat karya, memanfaatkan sumber daya lokal, serta terbukti tangguh menghadapi krisis ekonomi.
Sementara itu, Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Kota Tasikmalaya, Agus Rudianto, menekankan pentingnya penguatan manajemen koperasi agar program ini benar-benar menyentuh pengrajin kecil. Ia mengingatkan bahwa industri rakyat rentan tersaingi oleh korporasi besar mengingat lemahnya struktur koperasi yang ada.
"Agar pengrajin genteng tanah tradisional bisa mendapat manfaat dari program Gentengisasi, maka koperasi yang menaungi pengrajin harus dikonsolidasikan. Rancang standardisasi produksi dan perlindungan regulasi," tegas Agus.
Agus juga menyarankan kemudahan akses permodalan serta edukasi digitalisasi bagi para pengrajin agar jangkauan pemasaran produk genteng mereka lebih luas.
Program Gentengisasi diharapkan dapat menghidupkan kembali sentra-sentra produksi genteng tradisional di Kabupaten Banjar, Ciamis, Garut, Pangandaran, serta Kabupaten dan Kota Tasikmalaya yang selama ini terancam gulung tikar.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Ekspor Udang RI ke AS Tembus 1.852 Kontainer...
Towa News | 11 Februari 2026, 13.34 WIB
Pemerintah Luncurkan Paket Stimulus Ekonomi I-2026 Senilai Rp13...
Towa News | 11 Februari 2026, 11.58 WIB
Prabowo Ajak APINDO Ciptakan Lapangan Kerja di Sektor...
Towa News | 10 Februari 2026, 09.38 WIB
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11 Persen pada 2025, Lampaui...
Towa News | 05 Februari 2026, 14.03 WIB
Pertamina Satukan Tiga Entitas Hilir, Perkuat Pasokan Energi...
Towa News | 05 Februari 2026, 13.30 WIB