Airlangga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11 Persen, Salah Satu Tertinggi di G20

Dipublish oleh Tim Towa | 14 April 2026, 13:49 WIB

Bagikan:
X
Airlangga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11 Persen, Salah Satu Tertinggi di G20
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (dok. badkom RI)

Towa News, Jakarta - Di tengah tekanan ekonomi global yang semakin kompleks, Indonesia berhasil mempertahankan laju pertumbuhan yang solid. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa perekonomian nasional tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025, melampaui rata-rata proyeksi global yang hanya berkisar 2,6 hingga 3,3 persen versi IMF, OECD, dan Bank Dunia.

Capaian tersebut menempatkan Indonesia di jajaran negara dengan pertumbuhan tertinggi di antara anggota G20.

Airlangga menyebutkan, fondasi pertumbuhan itu ditopang oleh kuatnya permintaan domestik yang meliputi konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga sendiri berkontribusi hingga 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), tercermin dari Mandiri Spending Index yang berada di level 360,7.

"Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen," kata Menko Airlangga seperti dikutip dari Antara, Selasa (14/4/2026).

Memasuki kuartal II 2026, sejumlah indikator makroekonomi dinilai masih dalam kondisi sehat. Inflasi terkendali, neraca perdagangan mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut, dan cadangan devisa tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS. Indeks manufaktur pun masih berada di zona ekspansi dengan nilai 50,1.

Dari sektor eksternal, ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium mencapai 47 miliar dolar AS, yang dinilai menjadi bantalan alami dari tekanan sektor migas.

Di sektor pangan, produksi beras nasional mendekati 34,7 juta ton dengan cadangan Bulog hampir menyentuh 4,6 juta ton — salah satu yang terbesar dalam sejarah. Sementara di sektor energi, program B50 mendorong kemandirian dengan mencatatkan surplus energi sebesar 4,84 juta kiloliter.

Dari sisi fiskal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) turut difungsikan sebagai peredam gejolak ekonomi melalui berbagai stimulus, mulai dari bantuan pangan, subsidi energi, hingga diskon transportasi, dengan total nilai sekitar Rp11,92 triliun. Defisit APBN per Maret 2026 terjaga di level 0,93 persen terhadap PDB.

Transaksi menggunakan mata uang lokal juga mencatat lonjakan signifikan. "Transaksi mata uang lokal Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi 25,6 miliar dolar AS. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia," ujar Airlangga, Selasa (14/4/2026).

Dari sisi sosial, tingkat kemiskinan turun ke angka 8,25 persen, pengangguran menyusut menjadi 4,7 persen, dan rasio gini tercatat di level 0,363. Realisasi investasi sepanjang 2025 juga berhasil menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru.

Pemerintah turut mengakselerasi program hilirisasi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto. Sepanjang 2025, investasi di sektor ini mencapai Rp584,1 triliun atau setara 36,5 miliar dolar AS, tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan menyumbang 30,2 persen dari total investasi nasional.

Untuk memperkuat iklim usaha, pemerintah membentuk Satgas Percepatan dan Penyelesaian Permasalahan Investasi (Satgas P2SP) serta melakukan reformasi regulasi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025, termasuk penyederhanaan perizinan berbasis risiko lewat sistem OSS-RBA.

Airlangga juga menegaskan daya tarik Indonesia bagi investor asing di sektor digital dan teknologi. "Indonesia memiliki lahan, harga energi yang kompetitif, dan energi bersih. Sebagian besar perusahaan AS, atau bahkan perusahaan regional termasuk China, berkomitmen untuk berinvestasi di pusat data Indonesia," katanya.

Di kancah internasional, Indonesia juga memperluas jaringan kerja sama ekonomi dengan Uni Eropa, Kanada, dan kawasan Eurasia, sekaligus memperkuat peran aktif di berbagai forum multilateral seperti BRICS, ASEAN, RCEP, dan CPTPP.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video