Towa News, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai membawa dampak positif bagi petani lokal lantaran membuka pasar baru bagi hasil pertanian melalui kebutuhan bahan baku dapur program tersebut. Salah satu petani yang merasakan manfaat itu adalah Agi Sumarlin, warga Desa Sukaresmi, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Agi menyebut keberadaan MBG membuat serapan hasil panen petani menjadi lebih terjamin dibanding sebelumnya.
“Yang dulunya harga anjlok saat panen raya karena pasokan melimpah, dengan adanya MBG hasil panen petani lokal memiliki wadah penyerapan yang pasti dan menjadi tolok ukur stabilitas harga di tingkat petani,” kata Agi seperti dikutip dari ANTARA, Senin.
Selain menstabilkan harga, Agi menilai program ini turut menekan ketergantungan petani pada tengkulak karena hasil panen kini bisa dipasok langsung ke dapur MBG lewat koperasi atau satuan pelayanan yang bermitra dengan program tersebut.
“Kontrak pasokan dengan koperasi atau satuan pelayanan MBG memberikan jaminan harga yang lebih adil dan stabil,” ujar Agi.
Ia juga menyoroti kebijakan pemerintah yang memprioritaskan penyaluran MBG bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Menurutnya, kebijakan tersebut akan berdampak positif bagi petani di daerah yang sebelumnya kesulitan mengakses pasar.
Sejumlah komoditas lokal seperti padi, sayuran, buah-buahan, ubi, telur, hingga daging dinilai berpotensi terserap oleh dapur MBG, sehingga dapat mengurangi risiko gagal jual maupun penurunan harga drastis saat musim panen tiba.
“Adanya program ini menjadi angin segar bagi petani di daerah karena hasil panen bisa diserap oleh dapur MBG dengan harga yang lebih layak dan stabil,” katanya.
Tak hanya petani, Agi menyebut pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga berpotensi mendapat manfaat ekonomi dari program ini melalui keterlibatan sebagai pemasok kebutuhan dapur MBG.
Ia turut mengapresiasi sejumlah kebijakan pendukung sektor pertanian yang telah ditempuh pemerintah, di antaranya penyederhanaan distribusi pupuk subsidi, kenaikan harga pembelian gabah menjadi Rp6.500 per kilogram, serta bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).
“Positifnya terasa cukup nyata, mulai dari kemudahan akses pupuk subsidi hingga kenaikan harga gabah yang menjadi angin segar bagi petani,” ujar Agi.
Sebelumnya, pemerintah telah menyesuaikan sasaran penerima MBG dengan memprioritaskan kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, serta masyarakat di wilayah 3T. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menjelaskan, prioritas tersebut bertujuan agar manfaat program MBG lebih efektif menekan angka gizi buruk dan stunting, sekaligus menjangkau kelompok yang paling membutuhkan.
Sumber: Antara
Diskusi & Komentar
Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!