AS–Iran Teken Nota Perdamaian, Selat Hormuz Disepakati Dibuka Kembali

Tim Towa - Towa News
Kamis, 18 Juni 2026 20:12 WIB
AS–Iran Teken Nota Perdamaian, Selat Hormuz Disepakati Dibuka Kembali
(dok. REUTERS)

Towa News, Jakarta - Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk menghentikan konflik terbuka yang berlangsung sejak Februari 2026 melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) perdamaian. Kesepakatan tersebut diumumkan bersama oleh kedua negara dengan Pakistan sebagai mediator utama proses negosiasi.

Dokumen yang diberi nama Islamabad Memorandum of Understanding menjadi pijakan awal menuju perundingan lanjutan yang ditargetkan menghasilkan perjanjian damai permanen dalam waktu 60 hari ke depan.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani dokumen tersebut pada Rabu (17/6/2026). Penandatanganan dilakukan secara terpisah dan elektronik. Trump menandatangani dokumen saat berada di Prancis usai menghadiri rangkaian KTT G7, sementara Pezeshkian menandatangani dari Teheran.

Pemerintah Iran menyatakan substansi kesepakatan menjadi prioritas dibanding pelaksanaan seremoni bersama. Adapun seremoni penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung pada Jumat (19/6/2026) di kawasan Danau Lucerne, Swiss.

Kesepakatan ini memuat 14 poin utama yang mengatur langkah deeskalasi antara kedua negara. Salah satu poin utama adalah penghentian seluruh operasi militer oleh kedua pihak beserta sekutunya dan komitmen untuk tidak melakukan tindakan militer satu sama lain.

Selain itu, AS dan Iran sepakat saling menghormati kedaulatan masing-masing serta tidak mencampuri urusan domestik negara lain.

Dalam aspek ekonomi dan keamanan kawasan, Iran menyetujui pembukaan kembali jalur pelayaran komersial melalui Selat Hormuz tanpa biaya selama masa transisi 60 hari. Sementara AS menyatakan akan memulai proses penghentian blokade laut dan membuka ruang pembahasan penarikan pasukan dari wilayah sekitar Iran sesuai tahapan yang disepakati.

Kesepakatan juga mencakup rencana pembangunan ekonomi Iran dengan dukungan pendanaan internasional yang disebut mencapai sedikitnya USD 300 miliar, serta komitmen bertahap terkait pencabutan sanksi.

Di bidang nuklir, Iran menegaskan tidak akan mengembangkan senjata nuklir dan menyatakan kesiapan menyelesaikan persoalan stok uranium yang diperkaya melalui mekanisme pengawasan internasional.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut dokumen perdamaian tersebut telah difinalisasi dan kini memasuki tahap implementasi.

Meski demikian, sejumlah pengamat internasional menilai tantangan menuju perdamaian permanen masih besar. Beberapa isu yang dinilai berpotensi menjadi hambatan antara lain mekanisme pencabutan sanksi, pengawasan program nuklir Iran, pengelolaan jangka panjang Selat Hormuz, hingga persoalan aset Iran yang masih dibekukan.

Respons pasar global terhadap pengumuman tersebut terlihat cukup positif. Harga minyak dunia dilaporkan mengalami penurunan seiring ekspektasi pasar terhadap stabilitas distribusi energi dari kawasan Teluk.

Tahap berikutnya adalah perundingan lanjutan selama 60 hari untuk menyusun perjanjian final yang lebih komprehensif dan mengikat kedua negara secara penuh.

Bagikan Artikel:

Diskusi & Komentar

Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!

Masuk untuk Bergabung ke Diskusi