Bahlil Tutup Keran Impor Solar, SPBU Swasta Wajib Beli dari Pertamina

Dipublish oleh Tim Towa | 13 Januari 2026, 09:47 WIB

Bagikan:
X
Bahlil Tutup Keran Impor Solar, SPBU Swasta Wajib Beli dari Pertamina
(Dok.Sekertariat Presiden)

Towa News, Jakarta - Pemerintah resmi menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar mulai tahun ini. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik swasta yang memerlukan pasokan solar diwajibkan membeli dari PT Pertamina (Persero).

Keputusan ini diumumkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyusul diresmikannya Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan.

"Begitu (proyek ini) diresmikan, maka insyaallah kita tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar. Kita sudah mulai tahun ini, saya tidak lagi mengeluarkan izin impor solar," kata Bahlil di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1).

Menteri Bahlil menegaskan bahwa dengan beroperasinya kilang tersebut, Pertamina mampu memproduksi seluruh jenis solar, termasuk CN48 dan CN51. Karena itu, menurutnya tidak ada alasan lagi untuk melakukan impor.

Terkait pasokan untuk SPBU swasta yang selama ini bergantung pada impor, Bahlil memastikan mereka harus beralih membeli dari Pertamina.

"(Swasta beli ke Pertamina) Oh iya dong, semuanya," tegasnya.

Bahlil menargetkan Indonesia tidak lagi bergantung pada impor BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Target ini diyakini dapat tercapai melalui optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan.

Ia memaparkan kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 38,5 juta kiloliter per tahun. Rinciannya meliputi bensin RON 90 sebesar 28,9 juta kiloliter per tahun, RON 92 sebesar 8,7 juta kiloliter per tahun, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kiloliter per tahun.

Melalui optimalisasi RDMP, Pertamina dapat meningkatkan produksi bensin beroktan di atas RON 90 hingga 5,5 juta kiloliter per tahun. Dengan tambahan kapasitas ini, impor bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 dapat dikurangi hingga sekitar 3,6 juta kiloliter per tahun.

"Ke depan, melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kiloliter per tahun, dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90," ujarnya.

RDMP Balikpapan dilengkapi fasilitas utama berupa Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Kehadiran CDU sebagai inti kilang Balikpapan meningkatkan kapasitas pengolahan dari semula 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel minyak per hari.

Adapun unit RFCC berfungsi mengolah minyak mentah dengan mengubah residu menjadi produk petrokimia bernilai tinggi seperti propylene dan ethylene.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video