Towa News, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, termasuk Pertamax, berpeluang kembali turun menyusul tren pelemahan harga minyak di pasar global.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya di tengah tren koreksi harga minyak dunia yang berlangsung sejak pertengahan Juni 2026. Berdasarkan data Refinitiv pada Senin pagi (22/6/2026), harga minyak Brent tercatat di level US$79,48 per barel, turun sekitar 1,35% dari penutupan sebelumnya. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di US$76,46 per barel. Sebagai perbandingan, pada 10 Juni lalu Brent masih berada di US$93,10 per barel dan WTI di US$90,03 per barel — artinya keduanya telah terkoreksi sekitar 14-15% hanya dalam kurun waktu kurang dari dua pekan.
"Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat," ujar Purbaya saat rapat kerja dengan Komite IV DPD RI, Senin (22/6/2026).
Purbaya juga menilai perekonomian Indonesia mulai keluar dari periode tekanan berat akibat lonjakan harga minyak yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia menyebut Indonesia telah berhasil melewati fase terberat tersebut.
"Kalau dilihat dari data yang sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan, tinggal memperbaiki fondasi yang sudah ada supaya dengan perbaikan yang ada, kita bisa tumbuh lebih optimal," kata Purbaya, Senin (22/6/2026).
Ia juga mengakui bahwa kebijakan menaikkan harga BBM non-subsidi merupakan langkah mitigasi yang terpaksa diambil pemerintah, bukan karena kondisi ekonomi domestik bermasalah.
"Keadaan memang bukan ideal, tetapi kita terpaksa mengambil tindakan untuk memitigasi dampak global supaya kita masih bisa bertahan. Dan alhamdulillah sampai sekarang masih bisa tumbuh baik," pungkas Purbaya.
Sebagai konteks, Pertamina resmi menyesuaikan harga BBM non-subsidi pada 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan ini memicu keluhan dari sebagian masyarakat dan menjadi salah satu isu yang paling banyak disuarakan dalam sejumlah gelombang aksi belakangan ini. Adapun harga BBM bersubsidi Pertalite tidak mengalami perubahan.
Purbaya optimistis terbukanya peluang perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran turut berkontribusi pada pemulihan harga minyak global, dan berharap kondisi tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik pada paruh kedua tahun ini.
Diskusi & Komentar
Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!