Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Gabungan AS-Israel

Dipublish oleh Tim Towa | 01 Maret 2026, 11:38 WIB

Bagikan:
X
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Gabungan AS-Israel
Ayatollah Ali Khamenei (AP)

Towa News, Teheran - Televisi pemerintah Iran akhirnya mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (86), pada Minggu (1/3/2026), setelah sebelumnya sempat terjadi saling bantah antara pihak AS-Israel dengan pejabat Teheran. Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kompleks kediamannya, Beit-e Rahbani, di jantung kota Teheran pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.

Serangan Mendadak di Jantung Teheran

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut kompleks kediaman Khamenei hancur akibat serangan tersebut. "Pagi ini, dalam serangan mendadak yang dahsyat, kompleks kediaman Ali Khamenei hancur di jantung Teheran," kata Netanyahu, dikutip dari kantor berita AFP.

AS dan Israel melancarkan serangan yang menargetkan jajaran kepemimpinan tertinggi Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi tersebut bertujuan mengakhiri ancaman keamanan terhadap AS dan memberi peluang bagi rakyat Iran untuk menggulingkan penguasa mereka.

Konfirmasi Trump dan Netanyahu

Presiden AS Donald Trump menjadi salah satu yang pertama mengumumkan kematian Khamenei melalui platform media sosial Truth Social.

"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas. Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi seluruh rakyat AS yang hebat, serta orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia yang telah dibunuh atau dilukai secara brutal oleh Khamenei dan kelompok preman haus darahnya," tulis Trump melalui media sosialnya pada Sabtu (28/2/2026).

Trump menambahkan, "Dia tidak mampu menghindari Sistem Intelijen dan Pelacakan Canggih kami, dan karena bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada satu pun yang bisa dia, atau para pemimpin lain yang telah terbunuh bersamanya, lakukan."

Trump juga menyebut momentum ini sebagai peluang besar bagi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan. "Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka. Semoga IRGC dan Kepolisian dapat bergabung secara damai dengan para patriot Iran," kata Trump.

Di pihak Israel, Presiden AS Donald Trump memperkuat kabar tersebut kepada media. "Kami meyakini demikian (Khamenei tewas). Banyak dari pemimpin mereka telah tiada," ungkap Trump.

Iran Sempat Membantah, Lalu Mengonfirmasi

Sebelum konfirmasi resmi, selama beberapa jam terjadi ketidakpastian. Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan NBC News menyebut Ali Khamenei masih hidup. "Sepanjang yang saya tahu, Ayatollah maupun presiden (Masoud Pezeshkian) masih hidup. Pejabat tinggi Iran semua masih hidup," ujar Araghchi.

Pejabat hubungan masyarakat kantor Khamenei juga menuding adanya perang psikologis yang dilancarkan musuh. "Musuh menggunakan perang mental; semua orang harus waspada," demikian dikutip media pemerintah Iran.

Namun bantahan itu tidak berlangsung lama. Otoritas Iran akhirnya membenarkan klaim tersebut. Presenter TV media pemerintah menitihkan air mata saat mengabarkan berita tersebut. Negara diselimuti duka mendalam dan akan menerapkan 40 hari berduka.

Pejabat Tinggi Iran Lain yang Tewas

Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, mengatakan tujuh pejabat tinggi Iran telah tewas. "Israel telah membunuh beberapa pejabat tinggi Iran dalam serangan hari ini," kata Defrin dalam pidato yang disiarkan televisi.

Di antara nama yang paling menonjol adalah Ali Shamkhani, mantan sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran dan penasihat dekat Khamenei. Defrin juga mengklaim telah membunuh Mohammad Pakpour, komandan di Korps Garda Revolusi Islam Iran, serta Amir Nasirzadeh, Menteri Pertahanan Iran.

Profil dan Warisan Khamenei

Khamenei adalah figur sentral yang membentuk arah perlawanan dan kebijakan strategis Iran selama lebih dari tiga dekade. Ia mengambil alih tampuk kepemimpinan Republik Islam Iran pada 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini.

"Dia adalah presiden masa perang yang keluar dari konflik dengan keyakinan bahwa Iran rentan dan harus selalu siap menghadapi ancaman," kata Vali Nasr, pakar Iran dan penulis Iran's Grand Strategy, seperti dikutip Al Jazeera.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video