Prabowo Minta Pangkas Regulasi Penghambat Investasi, Selaraskan Standar OECD

Dipublish oleh Tim Towa | 22 April 2026, 13:09 WIB

Bagikan:
X
Prabowo Minta Pangkas Regulasi Penghambat Investasi, Selaraskan Standar OECD
(Dok.Sekertariat Kabinet)

Towa News,Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, untuk memangkas regulasi yang dinilai menghambat masuknya investasi ke Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya penyelarasan standar regulasi dengan negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Instruksi tersebut disampaikan Presiden dalam pertemuan bersama Rosan di Istana Negara, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

"Pertek (Persetujuan Teknis) juga harus dievaluasi. Kata Bapak Presiden, jika menghambat, tidak perlu ada. Jadi harus terus ditingkatkan," ujar Rosan usai menghadap Presiden sebagaimana dikutip dari Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Senin (21/4).

Rosan menjelaskan, pemerintah akan melakukan perbandingan atau benchmarking regulasi dengan negara-negara ASEAN serta standar OECD guna memastikan iklim investasi Indonesia semakin kompetitif.

Investasi Harus Serap Tenaga Kerja Berkualitas

Selain penyederhanaan regulasi, Presiden Prabowo juga menekankan bahwa investasi yang masuk tidak cukup hanya besar secara nilai, tetapi harus mampu membuka lapangan kerja yang nyata bagi masyarakat.

"Pesan beliau, investasi yang masuk harus mampu mendorong penciptaan lapangan kerja yang tumbuh dengan baik, benar, dan berkualitas," kata Rosan dalam keterangan yang sama.

Presiden turut mendorong percepatan eksekusi kebijakan investasi agar tidak tersandera oleh prosedur yang berbelit.

"Ini sangat penting dan harus segera diakselerasi. Jangan sampai regulasi justru menjadi penghambat," jelasnya.

Komitmen Investasi Asing Capai Puluhan Miliar Dolar

Rosan juga mengungkapkan sejumlah komitmen investasi dari negara mitra yang mencatatkan angka signifikan. Investasi dari Jepang diperkirakan mendekati USD 30 miliar, sementara Korea Selatan mencapai sekitar USD 10 miliar. Investasi asal Tiongkok disebut tetap tinggi dan konsisten.

Tren positif tersebut sejalan dengan target investasi nasional yang jauh lebih ambisius dalam lima tahun ke depan. Apabila total realisasi investasi pada periode 2014–2024 mencapai sekitar Rp9.100 triliun, pemerintah menetapkan target lebih dari Rp13.000 triliun untuk periode 2025 - 2029.

Sumber: Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video