Dipublish oleh Tim Towa | 19 Februari 2026, 14:06 WIB
Towa News, Washington DC - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya angka stunting di Indonesia dan menegaskan bahwa program makan bergizi gratis merupakan bentuk realokasi anggaran, bukan pemborosan. Hal itu disampaikannya saat tampil di hadapan para pemimpin bisnis Amerika Serikat dalam sesi roundtable Business Summit di Washington DC, Rabu (18/2/2026).
Pengalaman langsung turun ke pelosok desa menjadi titik balik perhatian Presiden terhadap isu stunting. Ia mengaku kaget ketika mendapati anak-anak yang perawakannnya jauh lebih kecil dari usia sebenarnya.
"Saya menanyakan usia mereka dan anak-anak yang saya kira berusia empat, lima, enam tahun, ternyata berusia sepuluh, sebelas, dua belas tahun. Kemudian saya mengetahui bahwa 25 persen anak-anak kita mengalami stunting, pertumbuhan terhambat," kata Presiden Prabowo Subianto sebagaimana dikutip dari BPMI Setpres, Kamis (19/2/2026).
Untuk menjawab persoalan itu, pemerintah mengambil langkah efisiensi dengan memangkas pos-pos belanja yang dinilai tidak produktif dan rawan penyimpangan, lalu mengalihkan dananya ke program prioritas.
Presiden pun menepis tudingan bahwa kebijakan tersebut boros.
"Inilah yang saya gunakan untuk mengalokasikan kembali dana ke program-program tersebut. Jadi, saya dituduh boros, dan sebagainya. Tidak, tidak, ini adalah pengalokasian kembali sumber daya," ujar Presiden Prabowo.
Salah satu program andalan yang lahir dari kebijakan itu adalah pemberian makan bergizi gratis untuk anak-anak. Program ini, menurut Presiden, telah mendapat apresiasi dari lembaga riset internasional Rockefeller Institute yang menyebutnya sebagai bentuk investasi paling menguntungkan.
"Setiap dolar yang dihabiskan untuk makanan gratis bagi anak-anak, menurut Rockefeller Institute, pengembaliannya setidaknya 7 dolar, tetapi dalam jangka panjang dapat memberikan pengembalian hingga 35 kali lipat," kata Presiden Prabowo.
Selain dampak kesehatan, Presiden menyebut program tersebut turut menggerakkan roda perekonomian, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga peningkatan permintaan produk pertanian domestik.
Di hadapan para pelaku usaha Amerika Serikat, Prabowo juga mengajak pihak swasta AS untuk memandang Indonesia sebagai mitra strategis jangka panjang, seraya menekankan pentingnya hubungan yang saling menguntungkan.
"Seharusnya ini menjadi situasi saling menguntungkan dan semua orang mendapat manfaat. Dengan manfaat, akan tercipta kemakmuran. Kemakmuran berasal dari tata pemerintahan yang baik, pemerintahan yang bersih. Kemakmuran berasal dari stabilitas," pungkas Presiden Prabowo.
Sumber: BPMI Setpres
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Indonesia Jadi Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional di...
Towa News | 20 Februari 2026, 04.57 WIB
Prabowo: Meski Anut Politik Non-Blok, Indonesia Tetap Teman...
Towa News | 19 Februari 2026, 13.26 WIB
NasDem Tunjuk Kembali Sahroni sebagai Wakil Ketua Komisi...
Towa News | 19 Februari 2026, 12.36 WIB
Paripurna DPR: MKMK Tidak Berwenang Proses Laporan soal...
Towa News | 19 Februari 2026, 12.23 WIB
Kemenhub Kerahkan 255 Kapal untuk Mudik Lebaran 2026,...
Towa News | 19 Februari 2026, 05.40 WIB