Dipublish oleh Tim Towa | 07 April 2026, 21:46 WIB
Towa News, Jakarta - Pengujian penggunaan bahan bakar biodiesel campuran 50 persen (B50) pada alat berat sektor pertambangan mencatat perkembangan positif. Hingga akhir Maret 2026, uji ketahanan dinamis telah melampaui 900 jam operasional tanpa ditemukan gangguan mesin yang bersumber dari kualitas bahan bakar.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa pengujian tersebut dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek kualitas bahan bakar, kinerja mesin, ketahanan operasional, dan stabilitas penyimpanan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan bahwa performa mesin selama pengujian berlangsung stabil.
"Secara umum, hasil sementara uji penggunaan B50 pada mesin diesel di sektor pertambangan menunjukkan performa yang stabil dan tidak ditemukan gangguan signifikan pada mesin," kata Eniya seperti dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Jumat (3/4).
Dari sisi pelaku industri, hasil serupa turut dilaporkan oleh PT Harmoni Panca Utama (HPU). Perusahaan tersebut melakukan uji perbandingan langsung antara B40 dan B50 menggunakan dua unit alat berat jenis HD785 Komatsu.
General Manager Plant PT HPU, Rochman Alamsjah, mengungkapkan bahwa pengujian telah berjalan hampir 1.000 jam tanpa kendala berarti pada mesin.
"Sejauh ini hingga mendekati hour meter 1000 jam performa mesin tidak menjadi masalah, meskipun ada beberapa catatan kecil berupa konsumsi bahan bakar masih fluktuasi lebih tinggi 1–3% untuk B50," ujar Rochman.
Secara keseluruhan, data pengujian mencatat peningkatan konsumsi bahan bakar B50 sekitar 3,12 persen dibandingkan B40. Meski demikian, angka tersebut dinilai masih dalam batas yang dapat diterima dan tidak berdampak signifikan terhadap produktivitas alat berat di lapangan.
Dari sisi teknis, bahan bakar B50 dikonfirmasi telah memenuhi seluruh spesifikasi yang disepakati para pemangku kepentingan, termasuk parameter kandungan air, stabilitas oksidasi, dan kandungan FAME (Fatty Acid Methyl Ester).
B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak kelapa sawit (B100) dan 50 persen solar murni (B0). Program ini merupakan kelanjutan dari kebijakan mandatori B40 yang telah diberlakukan secara nasional sejak awal 2025, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara pelopor pemanfaatan bahan bakar nabati skala besar di dunia.
Eniya menegaskan bahwa pengembangan B50 merupakan bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus memberikan dampak ekonomi yang nyata.
"Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, kita tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional," kata Eniya.
Ke depan, pemerintah berencana memperluas rangkaian pengujian B50 ke sektor-sektor lain, meliputi transportasi, pembangkit listrik, kereta api, dan alat mesin pertanian. Hasil dari seluruh pengujian tersebut akan menjadi landasan penyusunan kebijakan dan standar teknis implementasi B50 secara nasional.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Hadapi El Niño Godzilla, Pemerintah Optimalkan Waduk Gajah...
Towa News | 07 April 2026, 21.33 WIB
Optimalkan Aset BUMN dan Lahan Negara, Pemerintah Kebut...
Towa News | 06 April 2026, 20.01 WIB
Prabowo Pimpin Ratas Perumahan Rakyat, Target 400 Ribu...
Towa News | 06 April 2026, 19.59 WIB
Hadapi El Nino Godzilla, Pemerintah Klaim Stok Pangan...
Towa News | 06 April 2026, 14.32 WIB
HIPMI Gelar Munas Juni 2026, Usung Tema Sinergi...
Towa News | 04 April 2026, 20.42 WIB