Dipublish oleh Tim Towa | 24 April 2026, 17:12 WIB
Towa News, Bandung - Pemerintah menyatakan hasil sementara uji jalan bahan bakar biodiesel campuran 50 persen (B50) pada sektor otomotif menunjukkan kondisi aman tanpa kendala berarti. Pernyataan ini disampaikan seiring target implementasi B50 secara nasional yang dijadwalkan mulai 1 Juli 2026.
Percepatan penerapan B50 dilakukan sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak mentah akibat dinamika geopolitik global. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memimpin rangkaian uji coba di enam sektor secara bersamaan, yakni otomotif, tambang, pertanian, kelautan, pembangkit listrik, dan perkeretaapian.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengungkapkan bahwa pengujian telah berjalan secara bertahap sejak awal 2025.
"Awal 2025 kita sudah melakukan uji teknis laboratorium dan sudah selesai di pertengahan tahun lalu. Lalu kita memang sudah melakukan kick off dan serentak uji di 6 sektor… itu serentak dilakukan mulai tanggal 9 Desember 2025," kata Eniya seperti dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Selasa (21/4).
Hingga April 2026, kendaraan berbobot di atas 3,5 ton telah menuntaskan target jarak tempuh 40.000 kilometer. Sementara kendaraan di bawah 3,5 ton telah mencapai 40.000 km dari target 50.000 km, dengan kondisi mesin dan filter bahan bakar masih dalam batas yang direkomendasikan pabrikan.
"Bulan Mei nanti semua kendaraan sektor otomotif untuk di bawah 3,5 ton mencapai target 50.000 km. Setelah selesai 50.000 km, nanti ada pengecekan semua engine," ujar Eniya dalam keterangan yang sama.
Dari sisi kualitas bahan bakar, B100 sebagai komponen campuran B50 telah memenuhi spesifikasi teknis yang disyaratkan. Sejumlah parameter mengalami penyempurnaan dibanding standar B40, antara lain kadar air diturunkan menjadi maksimum 300 ppm, monogliserida menjadi maksimum 0,47 persen massa, serta kestabilan oksidasi ditingkatkan menjadi minimal 900 menit.
Pengujian emisi juga mencatat bahwa kadar karbon monoksida (CO) dan opasitas berada di bawah ambang batas yang berlaku. Konsumsi dan performa bahan bakar pun diklaim stabil sesuai standar pabrikan.
Hasil uji ini mendapat sambutan positif dari industri kendaraan. Anggota Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Abdul Rochim berharap spesifikasi bahan bakar yang digunakan dalam uji coba ini kelak dijadikan acuan resmi implementasi B50.
"Kalau kami dari GAIKINDO memandang hasil akhirnya bisa bertahan seperti ini, seperti hasil sementara ini, tentunya kami sangat senang dan kami berharap bahwa spek bahan bakar yang digunakan untuk uji ini menjadi spek untuk implementasi B50," ujar Rochim seperti dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM.
Pemerintah menegaskan bahwa program B50 merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional berbasis sumber terbarukan domestik. Setiap kebijakan yang diambil, menurut pemerintah, dilandasi hasil uji komprehensif yang terukur secara ilmiah dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Indonesia Bawa Agenda Perlindungan Pekerja Migran ke Forum...
Towa News | 24 April 2026, 17.22 WIB
Prabowo Dorong Hilirisasi Meluas ke Sektor Pertanian dan...
Towa News | 24 April 2026, 17.08 WIB
Pemerintah Lelang 6 Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah,...
Towa News | 22 April 2026, 18.49 WIB
Kawendra Lukistian: UU PPRT Bukti Negara Hadir untuk...
Towa News | 22 April 2026, 17.40 WIB
Menlu Sugiono: Energi Nasional Aman, Pasokan Minyak Tidak...
Towa News | 22 April 2026, 14.02 WIB