35.497 Armada Transportasi Disiapkan Layani Pemudik Nataru 2025/2026

Dipublish oleh Tim Towa | 09 Desember 2025, 12:55 WIB

Bagikan:
X
35.497 Armada Transportasi Disiapkan Layani Pemudik Nataru 2025/2026
(foto:Istimewa)

Towa News, Jakarta - Pemerintah menyiapkan lebih dari 35 ribu unit moda transportasi untuk melayani perjalanan masyarakat pada masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan, armada yang disiapkan mencakup transportasi darat, laut, udara, maupun kereta api guna memastikan kelancaran mobilitas masyarakat.

"Pemerintah telah memastikan kesiapan sarana dan prasarana transportasi selama masa Nataru 2025/2026. Sebanyak 35.000 lebih moda transportasi baik di darat, laut, udara, dan kereta api siap melayani perjalanan masyarakat," kata Dudy seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa (9/12/2025).

Pernyataan tersebut disampaikan Dudy dalam Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI di Gedung Parlemen Senayan pada Senin (8/1/2025).

Puluhan Ribu Kendaraan Lolos Uji Kelayakan

Untuk menjamin keselamatan perjalanan, Kementerian Perhubungan telah melakukan pemeriksaan kelayakan armada secara masif. Hasilnya, 47.187 kendaraan angkutan darat telah melalui proses rampcheck.

Selain itu, sebanyak 816 kapal laut dinyatakan layak beroperasi, 368 pesawat siap terbang, serta 3.333 unit sarana kereta api telah memenuhi standar keselamatan yang ditetapkan.

"Jumlah pengecekan ini masih akan terus bertambah seiring berjalannya waktu, sampai dengan mendekati hari pelaksanaan Posko Nataru 2025/2026," ungkap Dudy dalam laporan Kompas.com.

Kemenhub juga telah mengeluarkan 13 kebijakan operasional untuk mengatur jalannya layanan transportasi selama periode libur panjang ini. Kebijakan tersebut meliputi pembatasan angkutan barang, sistem tiket elektronik untuk kapal penumpang, hingga pembentukan posko perkeretaapian.

Diskon Tarif di Berbagai Moda Transportasi

Guna mendorong pemerataan arus perjalanan, pemerintah memberikan sejumlah insentif berupa potongan harga di berbagai moda transportasi.

Kereta api non-PSO dan angkutan motor mendapat diskon 30 persen. Penumpang kapal Pelni bisa menikmati potongan 20 persen, bahkan disediakan 17.239 tiket gratis. Tarif pesawat dipangkas 13-14 persen, sedangkan tarif tol pada beberapa ruas juga akan dikurangi sesuai kesepakatan.

Selain diskon, beberapa bandara akan beroperasi selama 24 jam penuh untuk mengakomodasi lonjakan penumpang.

Rincian Kesiapan Armada

Kementerian Perhubungan merinci kesiapan sarana dan prasarana untuk mendukung arus mudik dan balik Nataru sebagai berikut:

Transportasi Darat: 31.433 unit bus dan 117 terminal yang tersebar di berbagai wilayah.

Transportasi Laut: 704 kapal penumpang serta 69 kapal patroli dan navigasi untuk menjaga keamanan pelayaran.

Transportasi Kereta Api: 2.670 unit kereta dengan jaringan jalur di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

Transportasi Udara: 368 pesawat yang akan melayani 257 bandara di seluruh Indonesia.

Transportasi Penyeberangan: 253 kapal penyeberangan, 29 pelabuhan, dan 72 unit dermaga, termasuk dermaga movable bridge dan plengsengan.

Penguatan armada penyeberangan difokuskan pada jalur padat seperti Merak–Bakauheni dan Ketapang–Gilimanuk yang selalu ramai saat libur panjang.

Mobil Pribadi Jadi Pilihan Utama

Hasil survei Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kemenhub menunjukkan preferensi masyarakat dalam memilih moda transportasi saat Nataru. Mobil pribadi menjadi pilihan paling dominan dengan 51,12 juta orang atau 42,78 persen dari total pemudik.

Pilihan lainnya secara berurutan adalah sepeda motor, bus, mobil sewa, travel, pesawat, dan kereta api.

Tingginya penggunaan kendaraan pribadi berpotensi menimbulkan kemacetan di sejumlah ruas jalan utama dan jalan tol. Titik-titik yang diprediksi padat antara lain Jakarta–Cikampek, Jakarta–Bogor–Ciawi, Semarang–Solo, dan Cikampek–Palimanan.

Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada Rabu (24/12/2025) dengan 17,18 juta perjalanan, sedangkan puncak arus balik diprediksi jatuh pada Jumat (2/1/2026) dengan 20,81 juta perjalanan.

"Tanggal puncak ini menjadi dasar pengaturan operasional terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan," ujar Dudy dalam siaran pers Kemenhub.

Antisipasi Cuaca Ekstrem

Menghadapi potensi cuaca buruk selama periode Nataru, Dudy menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor. Curah hujan tinggi dapat mengganggu operasional transportasi di darat, laut, maupun udara.

Untuk itu, Kemenhub menjalin koordinasi real time dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Personel dan peralatan juga telah disiagakan di lokasi-lokasi rawan bencana.

Yogyakarta dan Bandung Destinasi Favorit

Survei BKT juga mengungkap bahwa destinasi wisata menjadi tujuan utama perjalanan masyarakat pada Nataru 2025/2026.

Kota Yogyakarta diprediksi menjadi destinasi paling diminati dengan 5,15 juta pergerakan. Disusul oleh Kabupaten Bandung, Kabupaten Malang, Kabupaten Bogor, dan Kota Denpasar.

"Kelima daerah ini merupakan pusat wisata budaya, alam, dan rekreasi keluarga yang diprediksi menjadi magnet utama mobilitas masyarakat saat libur akhir tahun," terang Dudy.

Minat berwisata dan berkumpul bersama keluarga menjadi pendorong utama meningkatnya perjalanan selama libur panjang ini.

Dari sisi provinsi, Jawa Tengah diprediksi menjadi tujuan terbesar dengan 20,23 juta pergerakan, diikuti Jawa Timur (16,83 juta) dan Jawa Barat (16,61 juta).

Di luar Pulau Jawa, provinsi seperti Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Lampung juga mengalami peningkatan minat perjalanan secara signifikan.

Sementara itu, Jakarta Timur tercatat sebagai daerah asal perjalanan terbesar, disusul Kabupaten Bekasi dan Kota Makassar.

119,5 Juta Orang Diprediksi Bepergian

Secara keseluruhan, Kemenhub memproyeksikan sebanyak 119,5 juta masyarakat Indonesia atau 42,01 persen dari total populasi akan melakukan perjalanan selama periode Nataru kali ini.

Menghadapi lonjakan mobilitas tersebut, Kemenhub menerapkan langkah kesiapsiagaan yang meliputi penyiagaan kapal navigasi dan patroli, optimalisasi jam operasional bandara, pengawasan ketat pada moda kereta api melalui Daerah Pantauan Khusus (Dapsus), serta penyediaan Alat Material Untuk Siaga (Amus).

Penambahan petugas di perlintasan sebidang dan koordinasi dengan pemerintah daerah serta unit pelaksana teknis juga dilakukan untuk mengelola fenomena lokal seperti pasar tumpah, lokasi wisata padat, dan perlintasan rawan kecelakaan.

Turut hadir dalam rapat kerja tersebut Wakil Menteri Perhubungan Suntana, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, Kepala Basarnas Mohammad Syafii, serta sejumlah pejabat tinggi Kemenhub.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video