Antisipasi Kekeringan, Kementan Genjot Percepatan Tanam Padi di 10 Provinsi Sentra

Tim Towa - Towa News
Rabu, 10 Juni 2026 15:53 WIB
Antisipasi Kekeringan, Kementan Genjot Percepatan Tanam Padi di 10 Provinsi Sentra
ilustrasi Tanam Padi ( dok. Tim towa)

Towa News, JakartaKementerian Pertanian (Kementan) memperkuat langkah mitigasi produksi padi nasional menghadapi potensi kekeringan pada periode Juni hingga September 2026. Percepatan luas tambah tanam (LTT) menjadi strategi utama untuk memastikan pasokan beras tetap aman di tengah ancaman berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah.

Inspektur Jenderal Kementan sekaligus Pelaksana Harian Dirjen Tanaman Pangan, Irham Warohian, menegaskan bahwa upaya perluasan areal tanam harus dilakukan secara terukur dan terkoordinasi dengan melibatkan semua pemangku kepentingan.

"Peningkatan luas tambah tanam harus dilakukan secara terukur, terkoordinasi, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Dengan langkah percepatan tanam yang tepat, kita optimistis produksi padi tetap terjaga sehingga kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi," ujar Irham dalam Rapat Percepatan LTT Padi Periode Juni–September 2026 di Kantor Ditjen Tanaman Pangan, Jakarta, seperti dikutip dari laman resmi Kementan, Senin (8/6/2026).

Kementan memusatkan percepatan tanam pada 10 provinsi sentra produksi padi, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Banten, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Selatan. Kesepuluh provinsi tersebut dipilih karena kontribusinya yang signifikan terhadap produksi beras nasional.

Guna mendukung program ini, Kementan mempererat koordinasi dengan pemerintah daerah, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia, PT Pertamina Patra Niaga, TNI, serta instansi teknis terkait. Peran penyuluh pertanian lapangan (PPL) juga diperkuat untuk mengoptimalkan pendampingan kepada petani.

Dari sisi distribusi, Kementan mempercepat penyaluran bantuan pemerintah, mengintensifkan Gerakan Tanam (Gertam), dan mengevaluasi distribusi pupuk bersubsidi agar bantuan tersebut tepat waktu dan tepat sasaran.

Dalam menghadapi ancaman kekeringan, Kementan melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan sekaligus memperkuat sistem peringatan dini. Upaya mitigasi turut mencakup rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan embung, sumur dangkal, pompanisasi, serta penggunaan sumber air alternatif lainnya.

Di sisi teknologi budidaya, petani didorong menggunakan varietas padi genjah dan toleran kekeringan, antara lain Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Pajajaran, dan Cakrabuana, yang disesuaikan dengan kondisi agroekosistem masing-masing daerah.

Kementan juga berencana mengoptimalkan lahan potensial dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) melalui koordinasi dengan Kementerian ATR/BPN untuk memperkuat data Lahan Baku Sawah (LBS).

"Percepatan tanam adalah kunci menjaga kesinambungan produksi. Dengan kerja sama seluruh pihak, kita harus memastikan tidak ada lahan potensial yang menganggur dan setiap peluang tanam dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat ketahanan pangan nasional," tegas Irham seperti dikutip dari laman resmi Kementan, Senin (8/6/2026).

Kementan menyatakan optimistis target luas tambah tanam dan produksi padi nasional dapat tercapai melalui serangkaian langkah tersebut, sekaligus sebagai bagian dari upaya jangka panjang mewujudkan swasembada pangan nasional.

Bagikan Artikel:

Diskusi & Komentar

Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!

Masuk untuk Bergabung ke Diskusi