BEM Bersatu Desak Sterilisasi Gerakan Mahasiswa dari Intervensi Politik Praktis

Tim Towa - Towa News
Selasa, 16 Juni 2026 21:39 WIB
BEM Bersatu Desak Sterilisasi Gerakan Mahasiswa dari Intervensi Politik Praktis
Konferensi pers Aliansi Bem Bersatu yang digelar di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa, 16 Juni 2026 (dok. istimewa)

Towa News, Jakarta - Aliansi mahasiswa BEM Bersatu mendesak agar gerakan mahasiswa dibersihkan dari segala bentuk pendanaan, fasilitas, maupun intervensi politik praktis pihak luar. Desakan ini disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (16/6/2026), menyusul rangkaian aksi mahasiswa yang menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Juru bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, yang juga Ketua BEM Fakultas Hukum UIC, menyampaikan bahwa gerakan mahasiswa idealnya tetap murni menjadi representasi suara rakyat, bukan kendaraan bagi kepentingan kelompok tertentu.

“Kami, BEM Bersatu, menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan,” kata Rahmat Djimbula, Selasa (16/6/2026).

Menurut Rahmat, desakan tersebut muncul setelah pihaknya mencermati kualitas sejumlah aksi mahasiswa belakangan ini yang dinilai mulai kehilangan arah dan substansi.

“Kami menilai sejumlah aksi mahasiswa belakangan ini mulai kehilangan arah, ditandai minim kajian, lemahnya argumentasi, dan ketidakjelasan substansi tuntutan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah gerakan masih berpihak kepada rakyat atau telah disusupi agenda tertentu,” kata Rahmat.

Rahmat menyoroti pula pilihan isu yang menjadi sasaran aksi belakangan ini. Ia menilai perhatian publik justru tersedot pada isu yang menurutnya bukan menjadi kebutuhan mendasar masyarakat, sementara program yang dianggap bermanfaat langsung bagi gizi dan kesejahteraan warga justru ditolak.

“Di tengah kebutuhan mendasar masyarakat, perhatian justru tersedot pada isu yang tidak menjadi urgensi utama. Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis, yang berdampak langsung pada gizi dan kesejahteraan masyarakat, justru menjadi sasaran penolakan, meski perbaikan tata kelola tetap diperlukan,” ucap Rahmat.

Selain mendesak sterilisasi gerakan mahasiswa, BEM Bersatu dalam pernyataan sikapnya juga menegaskan dukungan atas keberlanjutan Program MBG dengan catatan tata kelola program tersebut tetap diperbaiki agar tepat sasaran dan akuntabel. Aliansi ini turut mendukung pengusutan tuntas dugaan kasus korupsi tanpa pandang bulu, serta mengajak mahasiswa se-Indonesia mengawal proses hukumnya secara kritis dan objektif.

Sumber: ANTARA dan detikNews

Bagikan Artikel:

Diskusi & Komentar

Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!

Masuk untuk Bergabung ke Diskusi