Dipublish oleh Tim Towa | 20 November 2025, 12:35 WIB
Towa News, Jakarta - Nilai tukar Bitcoin mengalami penurunan signifikan hingga menyentuh US$ 89.000 pada Selasa (18/11), level terendah dalam tujuh bulan terakhir. Koreksi tajam ini dipicu oleh penarikan dana besar-besaran dari Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat dan kekhawatiran pasar terhadap rencana tarif ekstrem Presiden Donald Trump.
Trump berencana mengenakan tarif hingga 500% terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Rusia. Kebijakan ini memicu kekhawatiran di kalangan investor global, termasuk di pasar aset kripto.
Dalam empat hari beruntun, ETF Bitcoin di AS mencatat penarikan dana masif. Total kepemilikan Bitcoin dalam ETF tersebut turun dari 441.000 BTC menjadi sekitar 271.000 BTC. Redemption terbesar mencapai lebih dari US$ 800 juta dalam sehari.
Tekanan jual semakin menguat setelah harga Bitcoin gagal mempertahankan posisi di atas US$ 92.000 dan menembus batas psikologis US$ 90.000.
Meski demikian, pada Rabu (19/11) Bitcoin mulai menunjukkan pemulihan. Harapan perbaikan likuiditas di AS muncul setelah bank sentral AS (The Fed) berencana menghentikan pengurangan neraca dan membuka opsi operasi repo yang dapat menambah cadangan dana sistem keuangan.
Namun, pemulihan Bitcoin masih terhambat berbagai faktor makroekonomi. Inflasi yang belum terkendali, melemahnya sektor properti dan otomotif, serta ketidakpastian menjelang pengumuman suku bunga The Fed pada 10 Desember 2025 membuat sentimen pasar tetap waspada.
"Pergerakan harga yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknis dan sentimen global dalam jangka pendek. Fundamental aset digital tetap kuat, dan di situasi seperti ini penting bagi investor untuk mengambil keputusan secara tenang dan terukur," kata Vice President Indodax Antony Kusuma seperti dikutip dari DetikFinance, Kamis (20/11/2025).
Antony menegaskan bahwa volatilitas jangka pendek tidak mengubah prospek jangka panjang aset digital. Kondisi saat ini, menurutnya, merupakan bagian alami dari siklus pasar kripto dan bersifat temporer.
"Bagi investor jangka panjang, momen seperti ini sering dianggap sebagai peluang untuk menambah posisi secara bertahap," tambahnya dalam keterangan tertulis.
Pihaknya mengimbau seluruh investor untuk mengutamakan manajemen risiko dan menghindari keputusan yang bersifat emosional. Koreksi ini dinilai wajar terjadi setelah Bitcoin mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada awal Oktober 2025.
Berdasarkan data CoinMarketCap, per pukul 11.00 WIB Kamis (20/11), Bitcoin berada di level US$ 92.381, menguat 0,67%.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Realisasi APBN 2025 Tunjukkan Kinerja Solid, Defisit Terkendali...
Towa News | 09 Januari 2026, 08.50 WIB
IHSG Catat Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Tembus Level...
Towa News | 08 Januari 2026, 14.05 WIB
Pemerintah Tetapkan Target Penerimaan Pajak Rp 2.693 Triliun...
Towa News | 08 Januari 2026, 09.12 WIB
Mentan Amran Cabut Izin 2.300 Distributor Pupuk yang...
Towa News | 07 Januari 2026, 14.03 WIB
KFC dan Pizza Hut Merger Rp14,7 Triliun, Terus...
Towa News | 02 Januari 2026, 09.55 WIB