Dipublish oleh Tim Towa | 05 Mei 2026, 17:50 WIB
Towa News, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) pada kuartal I-2026. Angka ini diumumkan dalam Berita Resmi Statistik yang dirilis BPS pada Selasa (5/5/2026).
Secara nominal, Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada periode Januari–Maret 2026 mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp3.447,7 triliun.
Konsumsi Pemerintah Jadi Motor Utama
Dari sisi pengeluaran, lonjakan paling signifikan berasal dari Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang melejit 21,81 persen secara tahunan. Konsumsi rumah tangga — yang mendominasi struktur PDB dengan porsi 54,36 persen — turut tumbuh 5,52 persen.
Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik tercatat tumbuh 5,96 persen, sedangkan ekspor barang dan jasa hanya naik tipis 0,90 persen. Di sisi lain, impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang PDB ikut membengkak 7,18 persen.
Sektor Akomodasi dan Pariwisata Pimpin Pertumbuhan Lapangan Usaha
Dari sisi produksi, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yakni 13,14 persen secara tahunan. Disusul Jasa Lainnya sebesar 9,91 persen dan Transportasi serta Pergudangan sebesar 8,04 persen.
Industri Pengolahan — sektor yang berkontribusi paling besar terhadap PDB dengan pangsa 19,07 persen — tumbuh 5,04 persen. Sementara itu, dua sektor mencatatkan kontraksi: Pertambangan dan Penggalian turun 2,14 persen, dan Pengadaan Listrik dan Gas menyusut 0,99 persen.

Secara Kuartalan, Ekonomi Terkontraksi 0,77 Persen
Bila dibandingkan dengan kuartal IV-2025 (quarter-to-quarter/q-to-q), perekonomian nasional justru mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen. Koreksi terdalam terjadi pada Komponen PK-P yang anjlok 30,13 persen, diikuti oleh ekspor yang terkoreksi 9,15 persen dan PMTB yang turun 7,54 persen.
Dari sisi lapangan usaha, Pertambangan dan Penggalian mencatat kontraksi terdalam secara kuartalan sebesar 8,20 persen. Sebaliknya, Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib menjadi penopang dengan lonjakan 13,04 persen, disusul sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh 9,56 persen.
Pulau Jawa Dominasi, Bali-Nusa Tenggara Tumbuh Paling Pesat
Secara spasial, Pulau Jawa masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi 57,24 persen dan pertumbuhan 5,79 persen secara tahunan. Posisi berikutnya ditempati Sumatera dengan pangsa 22,08 persen, diikuti Kalimantan (7,99 persen), Sulawesi (7,12 persen), Bali dan Nusa Tenggara (2,80 persen), serta Maluku dan Papua (2,77 persen).
Meski berkontribusi kecil, kawasan Bali dan Nusa Tenggara justru menorehkan laju pertumbuhan tertinggi secara tahunan, yaitu 7,93 persen. Sulawesi menyusul di posisi kedua dengan 6,95 persen, sementara Kalimantan mencatat pertumbuhan paling lambat di antara semua pulau, sebesar 4,08 persen.
Sumber data: Berita Resmi Statistik BPS No. 48/05/Th. XXIX, 5 Mei 2026.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Danantara Beli Saham Aplikator Ojol, Komisi Driver Ditarget...
Towa News | 04 Mei 2026, 15.38 WIB
Investasi Hilirisasi oleh Danantara: Ciptakan Lapangan Kerja, Ciptakan...
Towa News | 29 April 2026, 13.42 WIB
Danantara Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Tahap 2, dari...
Towa News | 29 April 2026, 13.22 WIB
Pemerintah Tandatangani PKS Proyek Pembangunan Pembangunan Pengolah Sampah...
Towa News | 22 April 2026, 13.03 WIB
Patra Logistik Terapkan Sistem Digital RTC untuk Awasi...
Towa News | 16 April 2026, 15.24 WIB