Empat Prajurit Indonesia Gugur di Lebanon, Pemerintah Desak PBB Usut Serangan Israel

Dipublish oleh Tim Towa | 26 April 2026, 22:53 WIB

Bagikan:
X
Empat Prajurit Indonesia Gugur di Lebanon, Pemerintah Desak PBB Usut Serangan Israel
(dok.istimewa)

Towa News, Jakarta - Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia, anggota pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), pada Sabtu (25/4/2026). Ia meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif hampir sebulan akibat luka berat yang dideritanya dalam sebuah insiden di Lebanon Selatan.

Praka Rico mengalami luka serius akibat ledakan artileri dari tank Israel yang terjadi di dekat Kota Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, pada 29 Maret 2026. Ia kemudian mendapat penanganan medis intensif di Beirut, namun kondisi lukanya terlalu parah untuk diselamatkan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl Achmad Mulachela menegaskan bahwa pemerintah memberikan penghormatan tertinggi kepada almarhum sekaligus terus berkoordinasi dengan UNIFIL untuk memastikan repatriasi jenazah dilakukan sesegera mungkin dan dengan penghormatan penuh.

"Pemerintah menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Negara hadir untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya atas pengabdian dan pengorbanan almarhum bagi perdamaian dunia," ujar Nabyl seperti dikutip dari keterangan video, Sabtu (25/4/2026).

Nabyl juga mengungkapkan bahwa pemerintah selama ini telah berupaya semaksimal mungkin bersama UNIFIL, pemerintah Lebanon, serta tim medis di Beirut untuk memberikan penanganan terbaik. Namun, kondisi yang dialami Rico tidak memungkinkan nyawanya untuk diselamatkan.

"Berbagai langkah medis telah diupayakan, namun akibat kondisi luka yang cukup berat, nyawa almarhum tidak dapat diselamatkan," imbuh Nabyl dalam laporan yang sama.

Atas kejadian ini, Indonesia kembali mengecam keras tindakan Israel yang dinilai telah merenggut nyawa personel penjaga perdamaian PBB. Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian adalah hal yang tidak dapat dikompromikan, dan setiap serangan terhadap mereka merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

"Indonesia mendesak PBB untuk melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel guna mengungkap fakta serta memastikan pertanggungjawaban atas insiden ini," kata Nabyl.

Praka Rico merupakan personel Indonesia keempat yang gugur dalam penugasan di bawah komando UNIFIL. Sebelumnya, pada insiden yang sama di akhir Maret, Praka Farizal Rhomadhon gugur di lokasi kejadian. Sehari sesudahnya, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan juga menjadi korban akibat serangan yang terjadi di dekat Bani Haiyyan, Lebanon Selatan. (red)

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video