Dipublish oleh Tim Towa | 31 Maret 2026, 11:42 WIB
Towa News, Jakarta - Pemerintah Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menggelar rapat darurat Dewan Keamanan (DK) menyusul gugurnya tiga personel penjaga perdamaian Indonesia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon selatan.
Desakan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono kepada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam percakapan telepon pada Senin (30/3) malam.
"Kami meminta dibentuknya rapat darurat Dewan Keamanan PBB dan proses investigasi yang cepat, menyeluruh, dan transparan," ujar Sugiono, dikutip dari akun X resminya, Selasa (31/3).
Tiga Prajurit Indonesia Gugur dalam Dua Hari
Insiden bermula pada Minggu (29/3), ketika Prajurit Satu Farizal Rhomadon gugur akibat serangan artileri tidak langsung di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan. Serangan terjadi di tengah eskalasi konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Kementerian Pertahanan kemudian mengonfirmasi gugurnya dua personel Indonesia lainnya pada Senin (30/3), seiring meningkatnya intensitas konflik di kawasan tersebut. Dengan demikian, total tiga prajurit Indonesia telah gugur dalam rentang kurang dari dua hari.
Koordinasi dengan Lebanon dan PBB
Selain dengan Guterres, Sugiono juga menghubungi Menteri Luar Negeri Lebanon Yousef Raggi guna menyampaikan kekhawatiran mendalam Indonesia atas rentetan serangan yang menimpa personel penjaga perdamaian. Kedua pihak sepakat untuk berkoordinasi erat dan menindaklanjuti sejumlah langkah krusial.
"Langkah-langkah tersebut dilakukan sembari mendukung upaya penurunan eskalasi tensi dan menjaga stabilitas regional," kata Sugiono.
Dalam kedua percakapan tersebut, Sugiono mengapresiasi ungkapan duka cita Guterres serta kesiapan PBB untuk berkoordinasi erat dengan Indonesia dalam menyelidiki insiden tersebut.
Indonesia Kecam Keras Serangan
Pemerintah Indonesia menegaskan penolakan keras atas serangan yang menewaskan warga negaranya yang tengah menjalankan misi perdamaian internasional. Sugiono menekankan bahwa keselamatan personel penjaga perdamaian PBB merupakan kewajiban yang tidak dapat dikompromikan berdasarkan hukum internasional.
"Kami mengecam keras serangan tersebut dan menggarisbawahi pentingnya menghormati keamanan dan keselamatan penjaga perdamaian PBB sesuai dengan hukum internasional," tegasnya.
Indonesia merupakan salah satu kontributor terbesar personel UNIFIL di Lebanon. Misi ini bertugas memantau gencatan senjata dan mendukung stabilitas di kawasan selatan Lebanon yang kerap menjadi titik panas konflik antara Israel dan Hizbullah.
Sumber: Siaran Pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Fraksi Gerindra...
Towa News | 31 Maret 2026, 19.27 WIB
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian di...
Towa News | 31 Maret 2026, 18.01 WIB
Kunjungan Prabowo ke Tokyo Hasilkan Komitmen Investasi Energi...
Towa News | 31 Maret 2026, 11.47 WIB
Indonesia Kecam Keras Insiden Penembakan yang Tewaskan Satu...
Towa News | 30 Maret 2026, 15.44 WIB
Di Balik Jamuan Santap Siang Kenegaraan: Keakraban Prabowo,...
Towa News | 30 Maret 2026, 15.36 WIB