Iran Minta Kapal Tanker Bayar Tol Bitcoin untuk Lewati Selat Hormuz

Dipublish oleh Tim Towa | 09 April 2026, 14:22 WIB

Bagikan:
X
Iran Minta Kapal Tanker Bayar Tol Bitcoin untuk Lewati Selat Hormuz
ilustrasi BTC (dok.istimewa)

Towa News, Teheran - Iran mewajibkan kapal tanker minyak yang ingin melintasi Selat Hormuz membayar biaya tol dalam bentuk mata uang kripto, khususnya bitcoin. Kebijakan ini muncul di tengah ketegangan yang masih berlanjut pascaserangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Hamid Hosseini, juru bicara Serikat Buruh Eksportir Produk Minyak, Gas, dan Petrokimia Iran, mengonfirmasi skema pembayaran tersebut kepada Financial Times. Ia menjelaskan bahwa kapal tanker yang ingin melintas harus terlebih dahulu mengirimkan email kepada otoritas Iran.

"Setelah email diterima dan Iran menyelesaikan perhitungannya, kapal-kapal akan diberi waktu beberapa detik untuk membayar dengan bitcoin, agar mereka tidak dapat dilacak atau disita karena sanksi," kata Hosseini seperti dikutip dari Gizmodo, Kamis (9/4/2026).

Tarif yang ditetapkan Iran adalah USD 1 per barel minyak. Berdasarkan ketentuan tersebut, kapal tanker jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) berkapasitas 2 juta barel diperkirakan harus membayar hingga USD 2 juta per perjalanan. Adapun kapal tanker dalam kondisi kosong dikecualikan dari pungutan.

Kabar ini melengkapi laporan Bloomberg sebelumnya yang menyebut Iran mulai menggunakan stablecoin seperti USDT dan USD1 untuk transaksi serupa. Laporan terbaru Financial Times menyebutkan secara spesifik bahwa bitcoin kini menjadi mata uang kripto pilihan utama.

Pilihan bitcoin disebut bukan tanpa alasan. Berbeda dengan stablecoin yang memiliki mekanisme pemblokiran dan pembekuan aset oleh penerbit terpusat, bitcoin tidak memiliki penerbit maupun pemroses pihak ketiga sehingga dinilai lebih sulit dijangkau oleh sanksi internasional.

Di pasar kripto, harga bitcoin dilaporkan melonjak dari kisaran USD 68.000 menjadi USD 72.000 seiring beredarnya kabar negosiasi antara Iran dan AS, dan terus menguat setelah laporan Financial Times mengenai sistem tol Selat Hormuz ini dipublikasikan.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dalam kondisi normal mengangkut sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Lalu lintas di selat tersebut dilaporkan anjlok hingga 97 persen setelah IRGC memberlakukan pembatasan ketat pada awal konflik, menurut data S&P Global.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video