Dipublish oleh Tim Towa | 25 November 2025, 14:03 WIB
Towa News, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah mengkaji kemungkinan pengoperasian Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line selama 24 jam di Jabodetabek. Namun, perusahaan menekankan bahwa wacana ini masih dalam tahap studi mendalam yang melibatkan berbagai aspek teknis dan keselamatan.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan, kajian tersebut muncul sebagai respons terhadap kebutuhan mobilitas warga yang kian tinggi, termasuk pada waktu malam hingga dini hari. Meski demikian, penerapan layanan nonstop ini bukan keputusan sederhana yang dapat dilakukan dengan cepat.
"Tentunya dari sisi pelayanan pelanggan, ini hal yang positif. Tapi tentunya kita harus hitung. Harus hitung itu," ujar Bobby seperti dilansir Kompas.com dalam konferensi pers persiapan angkutan Natal dan Tahun Baru 2025/2026 di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Perawatan dan Elektrifikasi Jadi Kendala Utama
Bobby menegaskan bahwa operasional kereta api memerlukan perhitungan matang, terutama terkait jadwal perawatan dan sistem elektrifikasi. Selama ini, pemeliharaan sarana dan prasarana KRL dilakukan pada malam hari saat layanan tidak beroperasi.
"Yang namanya pengoperasian kereta ini kan tidak simple bahwa kita harus paksakan. Kita harus hitung berapa lama window perawatannya. Kemudian bagaimana dari window, dari elektrifikasinya," jelasnya seperti dikutip Kompas.com.
Ia mencontohkan betapa rentannya jaringan listrik aliran atas (LAA) yang menjadi sumber daya KRL. Gangguan kecil seperti layang-layang tersangkut saja dapat menghentikan operasional, seperti yang pernah terjadi pada kereta cepat Whoosh.
"Itu kan aliran listrik di atas juga. Kalau aliran listriknya 24 jam. Wah, kapan kita ngecek kabelnya kan gitu," kata Bobby dalam laporan Kompas.com.
Tiga Aspek Penting dalam Pengambilan Keputusan
Bobby menyatakan bahwa KAI telah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan terkait kajian ini. Keputusan akhir akan didasarkan pada tiga aspek utama yang menjadi prinsip perusahaan.
"Kami ini, tiga aspek penting. Satu adalah keselamatan. Tentunya berkaitan juga dengan perawatan sarana dan prasarananya. Kedua adalah dari aspek operasionalnya. Yang ketiga tentunya kenyamanan buat pelanggan juga," terang Bobby seperti dilansir Kompas.com.
Pihaknya memastikan bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional. Evaluasi menyeluruh mencakup perhitungan teknis, analisis risiko, kesiapan infrastruktur, hingga skenario penanganan gangguan.
Belum Ada Keputusan Final
Hingga saat ini, wacana KRL 24 jam masih berada dalam tahap kajian dan belum ada keputusan final untuk penerapannya. KAI menegaskan bahwa implementasi layanan ini memerlukan kesiapan seluruh ekosistem, tidak hanya berdasarkan permintaan penumpang semata.
Rencana ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengembangkan transportasi massal sebagai tulang punggung mobilitas perkotaan. Namun, tantangan teknis terkait perawatan dan keandalan infrastruktur masih menjadi pertimbangan utama sebelum layanan 24 jam dapat direalisasikan.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Kemlu Lobi Iran agar Dua Tanker Pertamina Bisa...
Towa News | 06 Maret 2026, 14.32 WIB
MUI Ajak Ulama dan Umara Perkuat Persatuan di...
Towa News | 06 Maret 2026, 14.22 WIB
Kepatuhan Meta Hanya 28 Persen, Menkomdigi Sidak Kantor...
Towa News | 06 Maret 2026, 13.59 WIB
Dasco Serukan Persatuan Nasional, Minta Masyarakat Sipil Beri...
Towa News | 06 Maret 2026, 13.51 WIB
Presiden Prabowo Gelar Buka Puasa Bersama Pimpinan PBNU,...
Towa News | 05 Maret 2026, 19.16 WIB