Dipublish oleh Tim Towa | 12 Januari 2026, 12:47 WIB
Towa News, Jakarta - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa program penyerapan gabah tanpa memandang kualitas memberikan dampak ekonomi mencapai Rp132 triliun kepada petani dan masyarakat. Angka ini jauh melampaui potensi kerugian yang harus ditanggung pemerintah.
Amran menjelaskan bahwa skema ini memang membuat pemerintah menanggung selisih harga untuk sebagian gabah yang dibeli. Namun, nilai tersebut sangat kecil dibandingkan total produksi nasional.
"Dengan any quality, kita hitung-hitungan tadi, ini ada 31 juta ton yang kita jual Rp10 ribu. Berarti kita kehilangan katakanlah Rp1.000 atau Rp2.000. Itu nilainya Rp77 miliar," kata Amran seperti dilansir CNN Indonesia dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (12/1).
Menurut Amran, kerugian Rp77 miliar tersebut tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh petani dari kenaikan harga dan peningkatan produksi.
"Tapi, untungnya rakyat, petani, karena kenaikan harga, Rp132 triliun. Jagung saja dengan padi. Itu belum yang lain," ujar Amran.
Keuntungan tersebut dihitung berdasarkan kenaikan harga di tingkat petani dikalikan total produksi nasional. Dengan produksi setara beras mencapai 34 juta ton atau setara gabah 65 juta ton, kenaikan harga Rp1.000 per kilogram menghasilkan nilai ekonomi signifikan.
Amran menambahkan bahwa semangat tanam petani juga meningkat sehingga mendorong pertambahan produksi sekitar 4 juta ton yang turut menambah manfaat ekonomi secara keseluruhan.
Jaga Keberlanjutan Usaha Tani
Kebijakan penyerapan tanpa memandang kualitas dinilai krusial untuk menjaga keberlangsungan usaha tani. Tanpa program ini, petani berisiko mengalami kebangkrutan karena gabah tidak terserap pasar.
"Kalau tidak any quality, begitu petani gabahnya rusak macam-macam, dia bangkrut, tidak tanam lagi karena harus urus kredit dan KUR-nya," kata Amran.
Amran menegaskan bahwa isu gabah rusak yang sering disorot sebenarnya jumlahnya sangat kecil dibandingkan total produksi nasional, sehingga tidak memberikan dampak signifikan terhadap keseluruhan kebijakan.
Target Penyerapan 2026
Kementerian Pertanian menargetkan penyerapan gabah dan beras pada 2026 sebesar 4 juta ton melalui kolaborasi dengan Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Target ini dinilai realistis mengingat produksi nasional berada di kisaran 34 juta ton setara beras.
"Produksi kita 34 juta ton. 4 juta ton itu sekitar 10-11 persen, kecil. Masih sementara HPP (Harga Pembelian Pemerintah) gabah sekarang," ujar Amran.
Harga pembelian gabah ditetapkan tetap Rp6.500 per kilogram. Sistem penyerapan akan dilakukan secara kombinasi digital dan non-digital untuk menghindari hambatan teknis di lapangan.
Bulog sendiri menargetkan penyerapan 4 juta ton setara beras serta 1 juta ton jagung pada 2026 sebagai bagian dari penguatan cadangan pangan pemerintah. Target tersebut merujuk pada hasil rapat koordinasi terbatas Kementerian Koordinator Bidang Pangan akhir Desember 2025.
Hingga 31 Desember 2025, Bulog telah menyerap 3,1 juta ton gabah setara beras dan 101,96 ribu ton jagung. Per awal 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) tercatat 3,24 juta ton, sementara stok komersial sekitar 133 ribu ton.
Pemerintah juga menetapkan peningkatan cadangan pangan pemerintah (CPP) beras dari 3 juta ton menjadi 4 juta ton pada tahun ini.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Kemlu Lobi Iran agar Dua Tanker Pertamina Bisa...
Towa News | 06 Maret 2026, 14.32 WIB
MUI Ajak Ulama dan Umara Perkuat Persatuan di...
Towa News | 06 Maret 2026, 14.22 WIB
Kepatuhan Meta Hanya 28 Persen, Menkomdigi Sidak Kantor...
Towa News | 06 Maret 2026, 13.59 WIB
Dasco Serukan Persatuan Nasional, Minta Masyarakat Sipil Beri...
Towa News | 06 Maret 2026, 13.51 WIB
Presiden Prabowo Gelar Buka Puasa Bersama Pimpinan PBNU,...
Towa News | 05 Maret 2026, 19.16 WIB