Menkeu Kritik PBB Lemah Soal Penangkapan Maduro oleh AS

Dipublish oleh Tim Towa | 06 Januari 2026, 08:01 WIB

Bagikan:
X
Menkeu Kritik PBB Lemah Soal Penangkapan Maduro oleh AS
Foto: Bay Ismoyo/AFP

Towa News, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkritik lemahnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyikapi operasi militer Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

"Hukum dunia agak aneh sekarang. Jadi kalau kita lihat negara bisa nyerang negara lain yang berdaulat, dan seperti bisa get away dari pengawasan PBB. Jadi PBB-nya amat lemah sekarang," kata Purbaya kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/1/2026).

Purbaya menilai konflik AS-Venezuela tidak berdampak langsung terhadap Indonesia mengingat jarak geografis yang jauh. Ditambah Venezuela yang sudah tidak aktif di pasar minyak dunia karena keterbatasan kapasitas produksi.

Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga kedaulatan nasional. "Itu kan jauh dari negara kita. Artinya kita mesti selalu menjaga kekuatan kita," ujarnya.

Belum Ada Dampak Ekonomi

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan belum ada dampak signifikan terhadap Indonesia. Pemerintah terus memantau perkembangan, terutama terkait harga minyak.

"Itu masih dimonitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor kalau satu dua hari ini pun tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi dan harga minyak relatif masih rendah kan masih sekitar 63 dolar AS per barel," kata Airlangga.

Terkait kerja sama Indonesia-Venezuela, Airlangga menyebutkan kemungkinan adanya perubahan arah mengingat pemerintahan Venezuela kini berganti.

Kronologi Penangkapan

Maduro ditangkap pada Sabtu (3/1) dini hari setelah pasukan AS menyerang sejumlah titik di Venezuela. AS menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah.

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, kemudian dibawa ke AS. Presiden Donald Trump telah lama mendesak Maduro menyerahkan kekuasaan dan menuduhnya mendukung kartel narkoba.

Sejak September 2025, pasukan AS telah membunuh lebih dari 100 orang dalam setidaknya 30 serangan terhadap kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dari Venezuela di Karibia dan Pasifik. Para ahli hukum mengatakan aksi tersebut kemungkinan melanggar hukum AS dan internasional.

Operasi ini menuai kecaman dari beberapa pemimpin internasional. Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia mencapai 303,22 miliar barel berdasarkan OPEC Annual Statistical Bulletin 2025.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video