Pahlawan Bondi yang Rebut Senjata Penembak Tak Menyesal Meski Terluka Parah

Dipublish oleh Tim Towa | 16 Desember 2025, 11:13 WIB

Bagikan:
X
Pahlawan Bondi yang Rebut Senjata Penembak Tak Menyesal Meski Terluka Parah
(Foto: AFP PHOTO/NSW Premier's Department/HANDOUT)

Towa News, Sydney - Seorang warga Australia bernama Ahmed al Ahmed menyatakan tidak menyesal telah merebut senjata dari pelaku penembakan massal di kawasan Pantai Bondi, meskipun kini tubuhnya penuh luka tembak dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Pria berusia 44 tahun itu saat ini tengah dalam masa pemulihan di Rumah Sakit St George, Kogarah, Sydney bagian selatan, setelah menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya. Ahmed mengalami lima luka tembak yang sebagian besar berada di lengan kirinya.

"Dia tidak menyesali apa yang telah dilakukannya. Dia mengatakan akan melakukannya lagi. Tetapi rasa sakitnya mulai membebani dirinya," ujar Sam Issa, pengacara imigrasi yang mendampingi Ahmed, seperti dilansir Sydney Morning Herald, Selasa (16/12/2025).

Issa mengunjungi Ahmed di rumah sakit pada Senin (15/12) malam waktu setempat untuk mengetahui kondisi kliennya. Ia menuturkan bahwa kondisi Ahmed jauh lebih buruk dari perkiraan awal.

"Dia sama sekali tidak sehat. Tubuhnya penuh luka tembak. Pahlawan kita sedang berjuang saat ini," kata Issa menggambarkan kondisi Ahmed.

Menurut Issa, salah satu peluru menembus hingga ke bagian belakang tulang belikat kiri Ahmed dan belum berhasil dikeluarkan. Dalam foto yang diambil di rumah sakit, lengan kiri Ahmed terlihat diperban sepenuhnya. Issa bahkan mengkhawatirkan kliennya berisiko kehilangan lengan kirinya akibat cedera parah tersebut.

"Kondisinya jauh lebih buruk dari yang diperkirakan. Ketika Anda membayangkan sebuah peluru di lengan, Anda tidak membayangkan cedera serius, tetapi dia telah kehilangan banyak darah," ungkap Issa.

Insiden penembakan massal terjadi pada Minggu (14/12) waktu setempat di area Pantai Bondi. Ahmed dilaporkan bergulat dengan pelaku menggunakan tangan kosong untuk merebut senjatanya. Akibat aksinya, ia terkena tembakan. Tragedi tersebut menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai lebih dari 40 orang lainnya.

Aksi heroik Ahmed menuai pujian dari berbagai pihak, termasuk Premier New South Wales, Chris Minns, yang menyebutnya sebagai "pahlawan sejati" saat mengunjunginya di rumah sakit.

Ahmed merupakan seorang Muslim asal Suriah yang tiba di Australia pada 2006 setelah melarikan diri dari perang sipil di negaranya. Ia memperoleh kewarganegaraan Australia pada 2022 setelah melalui perjuangan panjang. Di Sydney, Ahmed bekerja sebagai pemilik toko tembakau dan menjadi ayah dari dua anak perempuan berusia 5 tahun dan 6 tahun.

Menurut Issa, Ahmed merasa berhutang budi kepada masyarakat Australia atas kesempatan yang diberikan kepadanya.

"Ahmed adalah seorang pria yang rendah hati, dia tidak tertarik pada pemberitaan, dia hanya melakukan apa yang harus dia lakukan sebagai manusia pada hari itu," kata Issa.

"Dia merasa bersyukur karena berada di Australia. Ini adalah caranya untuk menyampaikan rasa terima kasihnya karena bisa tinggal di Australia, karena telah diberikan kewarganegaraan," tambahnya.

Issa menegaskan bahwa Ahmed sangat menghargai masyarakat Australia dan merasa sebagai anggota masyarakat, ia harus bertindak dan berkontribusi dengan cara yang dilakukannya saat insiden penembakan terjadi.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video