Dipublish oleh Tim Towa | 20 November 2025, 12:19 WIB
Towa News, Jakarta - Gangguan layanan Cloudflare yang melumpuhkan berbagai situs di seluruh dunia menjadi bukti nyata bahwa ancaman kiamat internet bukan sekadar isapan jempol. Pakar teknologi mengingatkan bahwa ketergantungan pada satu perusahaan infrastruktur bisa memicu dampak global yang masif.
Timothy Edgar, profesor ilmu komputer dari Brown University Amerika Serikat, menilai insiden ini harus menjadi peringatan serius. Dalam wawancaranya dengan New York Times, Edgar menyoroti masalah besar yang kerap luput dari perhatian pengguna internet.
"Cloudflare adalah perusahaan penting, menyediakan layanan untuk 20% traffic internet dunia dan menangani benar-benar triliunan permintaan setiap hari," ujar Edgar seperti dilansir News.com Australia, Kamis (20/11/2025).
Edgar menjelaskan bahwa manusia sudah sangat bergantung pada internet, namun tidak menyadari betapa rentannya sistem tersebut. Ketika layanan internet mengalami kekacauan, seluruh aktivitas digital ikut terganggu seperti sebuah kiamat digital.
Menurutnya, kejadian pada Cloudflare membuktikan bahwa masalah di satu perusahaan teknologi saja sudah cukup menimbulkan dampak global. Edgar bahkan mempertanyakan bagaimana jadinya jika banyak perusahaan teknologi tumbang bersamaan.
Gangguan Cloudflare yang terjadi baru-baru ini menyebabkan jutaan situs menampilkan pesan Error 500 atau Internal Server Error. Platform besar seperti X (Twitter), ChatGPT, Discord, hingga berbagai situs e-commerce dan media berita turut lumpuh.
Pihak Cloudflare menyatakan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh bug internal atau kesalahan konfigurasi jaringan di sistem mereka, bukan serangan siber. Masalah ini mengganggu sistem routing global yang bertugas mengarahkan lalu lintas data.
Cloudflare merupakan perusahaan infrastruktur yang menyediakan jaringan pengiriman konten (CDN), keamanan siber, dan layanan DNS. Perusahaan ini berperan sebagai pelindung situs dari serangan siber sekaligus memastikan situs dapat diakses dengan cepat dari berbagai lokasi.
Edgar mengkritik minimnya upaya pemerintah dalam membuat perusahaan teknologi besar bertanggung jawab atas infrastruktur internet yang mereka kelola. Insiden ini menunjukkan ketergantungan manusia pada infrastruktur internet yang terpusat.
Tahun ini sudah terjadi beberapa gangguan layanan internet global. Sebelumnya, Amazon Web Services dan Microsoft juga mengalami masalah serupa. Pada 2024, layanan CrowdStrike sempat tumbang dan melumpuhkan layanan publik termasuk bandara di beberapa negara.
Kejadian ini mengungkap kerapuhan ekosistem internet global yang sangat bergantung pada satu atau dua penyedia infrastruktur besar. Ketergantungan tersebut menciptakan risiko kegagalan tunggal dengan dampak masif.
Bagi penyedia layanan, insiden ini menjadi pelajaran tentang pentingnya diversifikasi infrastruktur dan memiliki sistem cadangan yang andal di luar jaringan tunggal untuk mencegah terulangnya gangguan serupa di masa depan.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Kemlu Lobi Iran agar Dua Tanker Pertamina Bisa...
Towa News | 06 Maret 2026, 14.32 WIB
MUI Ajak Ulama dan Umara Perkuat Persatuan di...
Towa News | 06 Maret 2026, 14.22 WIB
Kepatuhan Meta Hanya 28 Persen, Menkomdigi Sidak Kantor...
Towa News | 06 Maret 2026, 13.59 WIB
Dasco Serukan Persatuan Nasional, Minta Masyarakat Sipil Beri...
Towa News | 06 Maret 2026, 13.51 WIB
Presiden Prabowo Gelar Buka Puasa Bersama Pimpinan PBNU,...
Towa News | 05 Maret 2026, 19.16 WIB