Dipublish oleh Tim Towa | 15 Desember 2025, 09:58 WIB
Towa News, Jakarta - Pemerintah menempatkan hilirisasi sumber daya alam sebagai strategi utama transformasi ekonomi nasional guna melepaskan Indonesia dari jebakan negara berpendapatan menengah dan mewujudkan kemandirian industri.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rosan Roeslani mengatakan, Indonesia memiliki keunggulan sebagai produsen terdepan berbagai komoditas vital dunia, termasuk nikel dan kelapa sawit, serta timah dan bauksit.
"Kita adalah pemimpin global di beragam komoditas strategis seperti nikel dan kelapa sawit yang menempati posisi teratas serta komoditas lainnya seperti timah dan bauksit. Sumber daya ini menempatkan kita di jantung transisi energi global," kata Rosan seperti dikutip dari Antara, Senin (15/12).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam berbagai forum terkait penguatan kebijakan hilirisasi, termasuk saat memberi pandangan terhadap buku Indonesia Naik Kelas karya Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan. Buku itu dipandang memberikan peta jalan strategis mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan 8 persen, selaras dengan visi Indonesia Emas 2045.
Rosan menegaskan, ekonomi Indonesia yang merupakan terbesar di Asia Tenggara masih mampu tumbuh sekitar 5 persen di tengah dinamika global. Capaian ini menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi pemerintah sudah tepat.
Hilirisasi komoditas strategis kini tidak lagi dipandang sebagai program sektoral semata, melainkan menjadi strategi kedaulatan ekonomi untuk memperkuat rantai nilai dan menata ulang struktur ekonomi nasional.
Data menunjukkan, sepanjang Januari-September 2025, sektor hilir berhasil menyerap investasi Rp431 triliun atau lebih dari 30 persen total realisasi investasi nasional, dengan pertumbuhan mencapai 58,1 persen secara tahunan.
Rosan, yang juga menjabat CEO Danantara Indonesia, menyebut proyeksi pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam lima tahun mendatang memerlukan investasi sekitar 815 miliar dolar AS. Target ambisius ini hanya bisa tercapai melalui transformasi struktural, bukan sekadar mengandalkan konsumsi domestik.
Pemerintah fokus menarik investasi berkualitas yang mampu meningkatkan produktivitas, mendorong transfer teknologi, dan memperkuat rantai nilai domestik.
"Kami juga mendorong reformasi fiskal dan pajak daya saing, menjadikan pajak sebagai insentif untuk mendorong inovasi dan transisi hijau," ujar Rosan.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
IHSG Catat Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Tembus Level...
Towa News | 08 Januari 2026, 14.05 WIB
Pemerintah Tetapkan Target Penerimaan Pajak Rp 2.693 Triliun...
Towa News | 08 Januari 2026, 09.12 WIB
Mentan Amran Cabut Izin 2.300 Distributor Pupuk yang...
Towa News | 07 Januari 2026, 14.03 WIB
KFC dan Pizza Hut Merger Rp14,7 Triliun, Terus...
Towa News | 02 Januari 2026, 09.55 WIB
Menkeu Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%, Optimis Indonesia Jadi...
Towa News | 17 Desember 2025, 16.45 WIB