Dipublish oleh Tim Towa | 11 Maret 2026, 14:42 WIB
Towa News, Jakarta - Produksi minyak sawit Indonesia mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang 2025. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan total output nasional, yang meliputi crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO), menyentuh angka sekitar 56 juta ton.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengungkapkan, produksi CPO secara spesifik tercatat sebesar 51 juta ton. Kenaikan ini disebut sebagai hasil dari program peremajaan kebun sawit perusahaan yang kini mulai memasuki fase produktif.
"Jadi kita bersyukur tahun 2025 ini ada kenaikan produksi dari CPO itu kira-kira 51 juta ton atau secara total produksi kita dengan PKO itu 56 juta. Nah kemudian kenapa ini naik, karena memang akibat dari replanting-replanting perusahaan," ujar Eddy Martono seperti dikutip dari detikFinance usai bertemu dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026).
Meski demikian, Eddy menilai produksi nasional sejatinya masih berpotensi tumbuh lebih tinggi, asalkan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dapat berjalan lebih optimal. Saat ini, program tersebut dinilai masih berjalan di tempat.
Salah satu hambatan utama yang disoroti adalah keengganan sebagian petani untuk menebang tanaman sawit mereka di tengah harga tandan buah segar (TBS) yang sedang bagus.
"Justru di sini kadang-kadang si petani itu enggan. Contoh sekarang dengan harga TBS Rp 3.000, mereka tidak mau menebang tanamannya. Sehingga mereka sampaikan, saya mau makan apa kalau saya tebang tanaman saya," kata Eddy.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, GAPKI mendorong adanya skema jaminan penghidupan bagi petani selama masa tunggu tanaman sawit baru berproduksi. Tanaman sawit baru umumnya baru menghasilkan setelah sekitar 2,5 tahun. Alternatif lain yang diusulkan adalah sistem tumpang sari selama masa replanting berlangsung.
Eddy menegaskan, peningkatan produksi sawit menjadi prioritas mengingat kebutuhan domestik terus meningkat, terutama untuk menopang program biodiesel pemerintah.
Dalam pertemuan itu, ia juga melaporkan perkembangan program peningkatan produktivitas sawit kepada Mentan Amran, yang melibatkan introduksi serangga penyerbuk serta pengembangan sumber daya genetik asal Afrika, khususnya Tanzania dan Zambia.
"Kita sudah berjalan program peningkatan produktivitas dengan melakukan introduksi serangga penyerbuk. Pertama ini dari Tanzania dan juga sumber daya genetik dari Tanzania. Sekarang yang sedang berjalan adalah dengan Zambia, ini sedang proses. Saya sampaikan bahwa ini sudah siap untuk dilepas, yang serangga penyerbuk termasuk sumber daya genetik," papar Eddy.
Pelepasan serangga penyerbuk dan sumber daya genetik tersebut rencananya akan dilakukan langsung oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman setelah Lebaran, atau sekitar April mendatang.
"Setelah Lebaran, kita kira-kira April, kita akan lepas serangga penyerbuk dan juga sumber daya genetik," tutup Eddy.
Sumber: Detik
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Kementerian PKP Gandeng Swasta dan Perbankan Percepat Penyediaan...
Towa News | 11 Maret 2026, 14.32 WIB
Kemlu Evakuasi 32 WNI dari Iran Akibat Konflik...
Towa News | 11 Maret 2026, 14.13 WIB
Menlu RI Terima Dubes Negara Teluk dan Yordania,...
Towa News | 11 Maret 2026, 14.07 WIB
BGN Hentikan Sementara Lebih dari 1.500 SPPG di...
Towa News | 11 Maret 2026, 13.56 WIB
Diskon Tiket Pesawat Mudik Lebaran 2026 Capai 18%,...
Towa News | 11 Maret 2026, 12.57 WIB