Putin Ancam Rebut Lebih Banyak Wilayah Jika Ukraina Tolak Usulan Damai

Dipublish oleh Tim Towa | 22 November 2025, 13:19 WIB

Bagikan:
X
Putin Ancam Rebut Lebih Banyak Wilayah Jika Ukraina Tolak Usulan Damai
(Foto:GAVRIIL GRIGOROV/Pool/AFP)

Towa News, Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapannya menerima usulan rencana perdamaian dari Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik dengan Ukraina. Namun, pemimpin Kremlin itu mengancam akan melanjutkan operasi militer dan merebut lebih banyak kawasan jika Kyiv menolak proposal tersebut.

Putin memberikan pernyataan ini dalam pertemuan Dewan Keamanan Rusia pada Jumat (21/11), seperti dilaporkan AFP. Ia menegaskan bahwa proposal 28 poin yang didukung Presiden Donald Trump dapat dijadikan landasan penyelesaian konflik.

"Saya meyakini bahwa hal ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penyelesaian damai final," kata Putin seperti dikutip dari AFP.

Proposal damai yang dimaksud sejalan dengan kepentingan utama Moskow, terutama terkait penolakan keanggotaan Ukraina dalam NATO. Sebagian besar isi dokumen tersebut tampak mengakomodasi tuntutan Rusia pasca invasi Februari 2022.

Moskow Siap Bahas Detail Lebih Lanjut

Putin mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima salinan rencana perdamaian tersebut, meskipun belum ada pembahasan mendetail dengan Washington. Ia menilai Ukraina dan sekutu-sekutu Eropa yang menolak proposal ini tidak memahami kondisi riil di lapangan.

"Ukraina dan sekutu-sekutu Eropanya masih hidup dalam ilusi dan bermimpi untuk mengalahkan Rusia secara strategis di medan perang," ujar Putin dalam rapat tersebut, seperti dilansir AFP.

Saat ini, pasukan Rusia menguasai lebih dari 19 persen atau sekitar 115.500 kilometer persegi wilayah Ukraina. Moskow menargetkan penguasaan penuh atas Donbas, termasuk Donetsk dan Luhansk, serta Kherson dan Zaporizhzhia.

Ancaman Perluasan Operasi Militer

Putin menyebut pasukannya terus memperoleh kemajuan di berbagai sektor, termasuk klaim penguasaan hampir seluruh kota Kupiansk pada awal November—meski Kyiv membantah pernyataan itu. Ia memperingatkan kemajuan serupa akan berlanjut jika Ukraina menolak bernegosiasi.

"Jika Kyiv tidak ingin membahas usulan Presiden Trump dan menolaknya, maka mereka dan para penghasut perang Eropa harus memahami bahwa peristiwa yang terjadi di Kupiansk pasti akan terulang di sektor-sektor kunci lainnya di garis depan," tegas Putin seperti dilaporkan AFP.

"Dan secara umum, itu akan menguntungkan kami," tambahnya.

Kyiv Tolak Proposal AS

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak rencana perdamaian usulan AS dalam pidatonya Jumat (21/11). Ia menyatakan proposal tersebut menempatkan Kyiv pada "pilihan yang sangat sulit" antara kehilangan martabat atau risiko kehilangan dukungan Washington.

Zelensky menegaskan akan mengajukan alternatif terhadap rencana perdamaian tersebut.

Berdasarkan proposal 28 poin itu, Ukraina diminta menyerahkan sebagian wilayah timurnya, mengurangi jumlah pasukan, berkomitmen tidak bergabung dengan NATO, serta tidak akan mendapat pasukan penjaga perdamaian Barat.

Sebagai imbalannya, Rusia akan diterima kembali dalam kelompok G8 dan memperoleh keringanan sanksi. Namun, sanksi akan diberlakukan kembali jika Moskow melakukan invasi ulang.

Putin mengklaim pihaknya telah berkompromi sesuai permintaan Washington dalam pertemuan di Alaska pada Agustus lalu. Ia menyayangkan pemerintah AS belum berhasil memperoleh persetujuan dari Ukraina terhadap proposal tersebut.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video