Dipublish oleh Tim Towa | 01 Maret 2026, 01:24 WIB
Towa News, Jakarta - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengutuk eskalasi militer yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) di Timur Tengah, menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memicu balasan militer Teheran ke berbagai negara kawasan.
"Saya mengutuk eskalasi militer yang terjadi hari ini di Timur Tengah. Penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta tindakan balasan Iran di seluruh kawasan, merusak perdamaian dan keamanan internasional," kata Guterres dalam sebuah pernyataan, dari New York, Sabtu.
Menurut dia, seluruh Negara Anggota harus menghormati kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional, termasuk Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Piagam tersebut secara tegas melarang "ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan politik suatu negara, atau dengan cara apa pun yang tidak sejalan dengan Tujuan-Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa," katanya.
Untuk itu, Sekjen PBB tersebut menyerukan penghentian segera permusuhan dan de-eskalasi. Kegagalan untuk melakukannya berisiko memicu konflik regional yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan.
"Saya menyerukan semua pihak untuk segera kembali ke meja perundingan," katanya.
Dia juga menegaskan kembali bahwa tidak ada alternatif yang layak selain penyelesaian damai terhadap sengketa internasional, sesuai sepenuhnya dengan hukum internasional, termasuk Piagam PBB. Piagam tersebut menjadi landasan bagi pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional, demikian kata Guterres.
Serangan Gabungan dan Eskalasi Regional
Pada Sabtu pagi (28/2), Kementerian Pertahanan Israel mengatakan bahwa mereka meluncurkan serangan terhadap Iran dan menetapkan status darurat di seluruh wilayahnya. Beberapa waktu kemudian, Amerika Serikat (AS) juga melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran Iran dari udara dan laut, menurut laporan Reuters pada Sabtu (28/2), mengutip seorang pejabat AS.
Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan resminya menyebut operasi tersebut sebagai "major combat operations" yang bertujuan menghancurkan kemampuan militer dan nuklir Iran, sebagaimana dilaporkan NBC News. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut serangan itu sebagai "serangan preemptif" untuk menghilangkan ancaman terhadap Israel.
Beberapa rudal menghantam kawasan University Street dan area Jomhouri di Teheran, menurut laporan kantor berita Fars. Asap terlihat mengepul di kota tersebut, berdasarkan laporan koresponden Al Jazeera di lapangan.
Media Iran, mengutip Palang Merah, melaporkan sedikitnya 201 orang tewas di 24 provinsi. Iran membalas dengan menargetkan Israel dan aset-aset AS di sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, dan Irak.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan "mendesak semua pihak untuk menahan diri" demi menghindari risiko keselamatan nuklir bagi warga di kawasan. Sejauh ini belum ada dampak radiologis yang dilaporkan, demikian menurut NBC News.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara eksklusif dengan NBC News menyatakan Iran terbuka untuk de-eskalasi dan bersedia berunding jika AS menghentikan serangan.
Komunitas internasional memantau perkembangan situasi dengan kekhawatiran mendalam, sementara seruan diplomatik untuk menghentikan permusuhan terus mengalir dari berbagai penjuru dunia.
Sumber: Al Jazeera, NBC News, Reuters
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Menhan Iran dan Komandan IRGC Dilaporkan Tewas dalam...
Towa News | 01 Maret 2026, 00.15 WIB
Yordania Siap Dukung Pengiriman Pasukan Indonesia ke Gaza
Towa News | 26 Februari 2026, 11.25 WIB
Prabowo di Forum Board of Peace: Indonesia Dukung...
Towa News | 20 Februari 2026, 04.38 WIB
Rusia Blokir Total YouTube dan WhatsApp, Dorong Warga...
Towa News | 13 Februari 2026, 15.23 WIB
PBB Terancam Bangkrut: AS Tunggak US$ 2,19 Miliar,...
Towa News | 10 Februari 2026, 09.50 WIB