Surplus 68 Bulan Beruntun, Neraca Dagang RI Raup Keuntungan US$41,05 Miliar Sepanjang 2025

Dipublish oleh Tim Towa | 03 Februari 2026, 12:32 WIB

Bagikan:
X
Surplus 68 Bulan Beruntun, Neraca Dagang RI Raup Keuntungan US$41,05 Miliar Sepanjang 2025
ilustrasi ( dok. Kemnkeu)

Towa News, Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan prestasi gemilang dengan surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Sepanjang tahun 2025, Indonesia meraup keuntungan US$41,05 miliar atau setara Rp676,3 triliun dari perdagangan luar negeri.

Angka surplus tahunan ini melonjak 31 persen dibanding tahun 2024, didorong oleh kinerja ekspor yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan impor. Total ekspor sepanjang 2025 mencapai US$282,9 miliar, naik 6,15 persen dari US$266,53 miliar pada 2024. Sementara total impor hanya tumbuh 2,83 persen menjadi US$241,86 miliar.

Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyampaikan, pada Desember 2025 neraca dagang masih mencatat surplus US$2,51 miliar, meski sedikit turun dari bulan sebelumnya yang US$2,66 miliar.

"Neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak bulan Mei tahun 2020," ujar Ateng seperti dikutip dari CNN Indonesia, Senin (2/2).

Kinerja Desember 2025

Pada Desember 2025, surplus terjadi karena nilai ekspor yang mencapai US$26,35 miliar melampaui nilai impor sebesar US$23,83 miliar.

Ekspor Desember Naik 11,64 Persen

Nilai ekspor Indonesia di Desember 2025 tercatat US$26,35 miliar, meningkat 11,64 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang US$23,60 miliar.

Berdasarkan sektor, industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar dengan nilai US$21,17 miliar, tumbuh 19,25 persen year-on-year (yoy). Sementara sektor pertambangan dan lainnya mencapai US$3,40 miliar, turun 8,78 persen yoy.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat penurunan signifikan dari US$580 juta menjadi US$520 juta, atau merosot 10,91 persen yoy.

Impor Desember Tumbuh 10,81 Persen

Di sisi impor, nilainya tercatat US$23,83 miliar sepanjang Desember 2025, naik 10,81 persen dibanding Desember 2024 yang US$21,51 miliar. Impor terdiri dari migas US$3,35 miliar dan nonmigas US$20,48 miliar.

Berdasarkan kategori, impor bahan baku atau penolong mencapai US$16,10 miliar, meningkat 5,58 persen yoy. Impor barang modal mencatat kenaikan tertinggi sebesar 34,66 persen yoy menjadi US$5,32 miliar dari US$3,95 miliar tahun sebelumnya.

Sedangkan impor barang konsumsi tercatat US$2,41 miliar, naik 4,56 persen yoy.

Surplus Terbesar dari AS dan India

Surplus terbesar dicatat dalam perdagangan dengan Amerika Serikat senilai US$18,11 miliar, meningkat dari US$14,52 miliar tahun sebelumnya. Surplus dengan India juga tercatat US$14,49 miliar, meski sedikit turun dari US$14,7 miliar pada 2024.

Sebaliknya, perdagangan dengan Tiongkok mencatat defisit besar US$20,5 miliar, membengkak dari US$11,11 miliar dibanding tahun sebelumnya.

Komoditas ekspor utama ke AS didominasi mesin dan peralatan elektrik, pakaian serta aksesorisnya, dan alas kaki. Sedangkan ekspor ke India didominasi bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta besi dan baja.

Sementara itu, Indonesia banyak mengimpor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video