Timothy Ronald Diduga Jual Ilusi Kekayaan lewat Edukasi Crypto

Dipublish oleh Tim Towa | 06 Januari 2026, 08:20 WIB

Bagikan:
X
Timothy Ronald Diduga Jual Ilusi Kekayaan lewat Edukasi Crypto
(foto:instagram@timothyronaldd)

Towa News, Jakarta - Nama Timothy Ronald kembali menjadi sorotan publik di media sosial, kali ini bukan karena pencapaian atau inovasi, melainkan karena dugaan keterlibatan dalam skema penipuan berkedok program edukasi kripto. Sosok yang dikenal dengan gaya hidup mewah ini dituding menjebak ribuan pengikut melalui program edukasi berbayar yang dinilai tidak substantif.

 

Akademi Crypto dengan Biaya Rp17 Juta

Timothy Ronald dilaporkan mempromosikan sebuah program bernama Akademi Crypto dengan biaya mencapai Rp17 juta per tahun. Dalam promosi program tersebut, Timothy menjanjikan peserta akan mendapatkan "ilmu rahasia" untuk meraih kebebasan finansial melalui investasi dan perdagangan kripto.

Ia mengklaim diri sebagai "anak muda triliuner" dan menggunakan kisah kesuksesan pribadinya sebagai daya tarik utama dalam pemasaran program.

Testimoni Peserta: Materi Tidak Sebanding dengan Biaya

Sejumlah testimoni dari mantan peserta menyebutkan bahwa materi yang diberikan dalam kelas tersebut tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Konten pembelajaran dinilai dangkal dan sebagian besar dapat diakses secara gratis di internet.

Beberapa peserta bahkan menyebutkan bahwa program tersebut hanya berisi motivasi dan glorifikasi pribadi Timothy, tanpa sistem mentoring yang jelas.

"Yang dijual cuma mimpi dan omong kosong. Bahkan tidak ada sistem mentoring yang jelas," tulis salah seorang peserta kecewa di platform media sosial X.

Gaya Hidup Mewah Diduga Strategi Pemasaran

Dugaan skema penipuan ini semakin menguat setelah sebuah podcast di YouTube mengungkap dugaan cara kerja bisnis edukasi Timothy. Dalam podcast tersebut disebutkan bahwa gaya hidup mewah yang ditampilkan Timothy—mulai dari mobil sport, rumah mewah, hingga klaim saldo kripto miliaran—diduga merupakan strategi pemasaran untuk menciptakan ilusi kesuksesan guna menarik minat calon peserta.

Pola ini dinilai mirip dengan skema ponzi gaya baru, di mana calon peserta dibujuk membeli akses dengan iming-iming keuntungan besar, namun hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan ekspektasi dan biaya yang dikeluarkan.

 

Pola Serupa dengan Kasus Indra Kenz dan Doni Salmanan

Pengamat menyebut pola yang digunakan Timothy serupa dengan kasus-kasus sebelumnya yang melibatkan influencer kripto seperti Indra Kenz dan Doni Salmanan. Keduanya telah dipenjara akibat terbukti melakukan penipuan dengan menjual program "ilmu cepat kaya" dan memanfaatkan minimnya literasi aset digital masyarakat.

 

Sorotan Regulator terhadap Edukasi Digital Berkedok

Kasus ini kembali menyoroti lemahnya regulasi di sektor edukasi digital dan kripto di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Satuan Tugas Waspada Investasi didesak untuk segera turun tangan agar tidak semakin banyak korban terjebak dalam skema serupa.

Skema penipuan berkedok edukasi dan motivasi dinilai sebagai tren baru dalam kejahatan digital yang perlu diwaspadai masyarakat.

Sumber:Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial Instagram dan platform YouTube

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video