MEMUAT BERITA...

Utang AS Tembus Rp 694.356 Triliun, Tiap Penduduk Tanggung Beban Rp 20,65 Miliar

Tim Towa - Towa News
Kamis, 20 Agustus 2026 14:28 WIB
Utang AS Tembus Rp 694.356 Triliun, Tiap Penduduk Tanggung Beban Rp 20,65 Miliar
ilustrasi amerika ( dok. Istimewa)

Towa News, Jakarta – Beban utang nasional Amerika Serikat kini telah menembus angka US$ 39 triliun atau setara Rp 694.356 triliun (kurs sekitar Rp 17.800 per dolar AS). Kondisi ini disebut berpotensi mengerek biaya pinjaman bagi rumah tangga maupun pelaku usaha, sekaligus menambah tekanan terhadap keberlangsungan program pensiun federal.

Data tersebut termuat dalam laporan lembaga riset nirlaba Conference Board bertajuk "How the National Debt Affects All Generations of Americans" yang dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026. Berdasarkan jumlah populasi per Juli 2026, setiap warga AS kini menanggung beban utang sekitar US$ 116.000 atau setara Rp 20,65 miliar.

Seperti dikutip dari Liputan6.com, Rabu (19/8/2026), yang mengutip kantor berita Anadolu, laporan itu menyusun lima skenario fiskal untuk mengukur dampak perubahan defisit anggaran, suku bunga, dan stabilitas keuangan terhadap berbagai kelompok masyarakat, mulai dari mahasiswa penerima pinjaman pendidikan, keluarga calon pembeli rumah, pensiunan penerima jaminan sosial, hingga pengusaha kecil yang membutuhkan modal.

Menurut temuan tersebut, langkah pemangkasan defisit anggaran berpotensi menekan biaya pinjaman dan memperbaiki kondisi fiskal negara. Sebaliknya, defisit yang membengkak disertai guncangan finansial dinilai dapat mendongkrak signifikan biaya pinjaman mahasiswa, kredit rumah, hingga pembiayaan usaha.

Dalam simulasi skenario gagal bayar utang AS selama satu minggu, laporan tersebut memperkirakan cicilan pinjaman usaha kecil bisa melonjak hingga 21,6 persen, biaya pinjaman mahasiswa naik 8,7 persen, dan ongkos kepemilikan rumah bertambah hingga 6,7 persen.

"Utang nasional bukan sekadar angka dalam neraca pemerintah, utang ini memengaruhi keputusan keuangan yang dibuat warga Amerika Serikat setiap hari," kata Presiden sekaligus CEO Center di Conference Board, David K. Young, Rabu (19/8/2026).

"Utang yang lebih tinggi dapat berarti biaya pinjaman yang lebih tinggi, sumber daya yang lebih sedikit untuk prioritas nasional, dan ketidakpastian yang lebih besar seputar program pensiun," lanjutnya.

Laporan Conference Board juga memproyeksikan rasio utang nasional AS terhadap produk domestik bruto (PDB) akan mencapai 154 persen pada 2036 dalam skenario dasar, dan bisa melonjak hingga 180 persen bila defisit membesar. Selain itu, dana perwalian utama yang selama ini membiayai tunjangan pensiun Jaminan Sosial diperkirakan akan habis pada 2032.

Jika Kongres AS memilih membatasi tunjangan sesuai kemampuan pendapatan program, para pensiunan berpotensi mengalami pemangkasan tunjangan sebesar 7 persen pada 2032, dengan rata-rata pengurangan tahunan mencapai 28 persen sepanjang 2033 hingga 2036.

Sebagai opsi lain, mempertahankan tunjangan sesuai jadwal semula melalui suntikan dana dari kas umum Departemen Keuangan diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar US$ 2,7 triliun atau Rp 48.070 triliun dalam periode 2032–2036, langkah yang berisiko kembali memperbesar defisit federal.

Menyikapi berbagai temuan tersebut, Conference Board mendesak pembentukan komisi fiskal bipartisan di Kongres, reformasi menyeluruh atas sistem Jaminan Sosial, modernisasi program Medicare, serta perbaikan proses penyusunan anggaran federal.

Bagikan Artikel:

Diskusi & Komentar

Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!

Masuk untuk Bergabung ke Diskusi