Dipublish oleh Tim Towa | 07 Januari 2026, 14:19 WIB
Towa News, Jakarta - Satuan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap adanya 70 anak di Indonesia yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui komunitas media sosial bernama True Crime Community (TCC). Mereka tersebar di 19 provinsi dengan jumlah terbanyak berada di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
"Komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh pendiri, organisasi, maupun institusi. Tetapi dia tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital yang merupakan pertemuan antara minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang transnasional," ungkap Juru Bicara Densus 88 Polri Kombes Mayndra Eka seperti dilansir DetikNews, Rabu (7/1/2026).
Dalam konferensi pers di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Mayndra menampilkan sejumlah nama grup yang terafiliasi dengan jaringan TCC, di antaranya FTCI Film True Crime Indonesia, TCC Reborn (True Crime Community), dan Anarko Libertarian.
Berdasarkan data Densus 88, sebaran 70 anak tersebut meliputi DKI Jakarta (15 anak), Jawa Barat (12 anak), Jawa Timur (11 anak), Jawa Tengah (9 anak), Kalimantan Selatan (3 anak), Bali (2 anak), Sumatra Selatan (2 anak), Banten (2 anak), Kalimantan Barat (2 anak), Kalimantan Tengah (2 anak), dan Sulawesi Tenggara (2 anak). Sementara Lampung, DIY, NTT, Aceh, Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Riau, dan Sulawesi Tengah masing-masing satu anak.
Dari total tersebut, 67 anak telah menjalani asesmen, pemetaan, hingga konseling sebagai upaya intervensi. Mayoritas berada dalam rentang usia 11 hingga 18 tahun.
"Rata-rata yang bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau di lingkungan masyarakat, jadi di luar sekolah," kata Mayndra dilansir DetikNews.
Mayndra menjelaskan sejumlah faktor pendorong anak-anak bergabung dalam komunitas tersebut, antara lain perundungan, ketidakharmonisan keluarga, kurangnya perhatian orang tua, akses perangkat digital berlebihan, hingga paparan konten pornografi. Akibatnya, mereka menganggap grup tersebut sebagai tempat berlindung.
"Karena di dalam komunitas ini aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya, bisa terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan rekomendasi atau masukan untuk menyelesaikan solusinya masing-masing, tentunya dengan kekerasan-kekerasan tersebut," jelas Mayndra menurut DetikNews.
Ia menegaskan anak-anak tersebut tidak sepenuhnya menganut paham kekerasan ekstrem, melainkan menjadikannya sebagai inspirasi dan sarana pelarian dari masalah kehidupan mereka.
Densus 88 juga menemukan sejumlah anak telah membeli replika senjata untuk menyasar orang-orang yang dianggap sebagai pembuli di lingkungan sekolah.
"Ada replika senjata api dan busur dengan ciri khas mereka menulis pahamnya, tokoh-tokohnya, dan beberapa narasi yang menurut mereka ini memiliki arti dan simbol di dalam replika senjatanya. Juga pisau sebagai alat kekerasan," rinci Mayndra seperti dikutip DetikNews.
Selain itu, ditemukan pula atribut berbau militer, komponen elektronik, bahkan bahan peledak yang teridentifikasi berbahaya. Densus 88 juga menemukan atribut, buku, dan konten-konten bermuatan ideologis di kalangan anak-anak tersebut.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas Resmi Jadi Tersangka...
Towa News | 09 Januari 2026, 14.15 WIB
Polri Amankan Aset Rp 96,7 Miliar dari Jaringan...
Towa News | 08 Januari 2026, 12.44 WIB
Tersangka Kasus Produk Kecantikan, Richard Lee Terancam 12...
Towa News | 08 Januari 2026, 10.32 WIB
Menkum Tegaskan Restorative Justice di KUHAP Baru Punya...
Towa News | 07 Januari 2026, 11.33 WIB