Dipublish oleh Tim Towa | 27 April 2026, 13:04 WIB
Towa News, Jakarta - Indonesia resmi masuk jajaran negara paling tahan terhadap guncangan energi global, menduduki posisi kedua dunia berdasarkan laporan terbaru lembaga keuangan internasional JP Morgan. Laporan bertajuk Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis pada 21 Maret 2026 itu menempatkan Indonesia hanya selangkah di bawah Afrika Selatan dalam indeks ketahanan energi.
Laporan tersebut menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang secara kolektif mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi dunia. Penilaian dilakukan menggunakan indikator total insulation factor, yakni ukuran komposit yang menggambarkan seberapa besar suatu negara bergantung pada sumber energi domestik dibanding pasar energi global.
Indonesia mencatatkan skor insulation factor sebesar 77 persen, melampaui China (76 persen) dan Amerika Serikat (70 persen). Kekuatan utama Indonesia ditopang oleh produksi batu bara domestik yang menyumbang sekitar 48 persen dari konsumsi energi akhir nasional, disusul gas bumi domestik sebesar 22 persen, dan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 7 persen.
Respons Pemerintah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut positif hasil penilaian tersebut. Menurutnya, capaian ini bukan semata-mata cerminan kondisi terkini, melainkan bukti nyata dari arah kebijakan energi jangka panjang yang telah ditempuh pemerintah.
"Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber energi domestik dan akselerasi transisi energi," kata Airlangga seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (23/4/2026).
Airlangga menambahkan bahwa posisi tersebut turut memberikan ruang fiskal yang lebih terkendali di tengah volatilitas harga energi global, sekaligus membantu melindungi daya beli masyarakat dan keberlangsungan dunia usaha.
Batu Bara dan Gas Jadi Penopang Utama
JP Morgan secara eksplisit menyebutkan Indonesia bersama China, India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina sebagai kelompok negara yang memperoleh manfaat besar dari produksi batu bara domestik saat guncangan energi terjadi.
Selain itu, keterpaparan Indonesia terhadap jalur distribusi energi global yang tengah menjadi sorotan dunia terbilang sangat rendah. Impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total konsumsi energi primer nasional—jauh lebih kecil dibandingkan Korea Selatan (33 persen), Taiwan dan Thailand (masing-masing 27 persen), serta Singapura (26 persen), seperti dilaporkan CNBC Indonesia.
Indonesia juga dikenal sebagai eksportir terbesar batu bara termal di dunia dan produsen gas alam terpenting, dengan produksi gas pada 2024 mencapai sekitar 2.465 miliar meter kubik, menempatkannya sebagai produsen gas terbesar ke-13 secara global.
Kerentanan Struktural Tetap Ada
Di balik capaian tersebut, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa ketahanan energi Indonesia masih menyimpan sejumlah kelemahan mendasar. Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Indef, Abra Talattov, menilai ketahanan yang ada saat ini masih bertumpu pada instrumen fiskal berupa subsidi dan kompensasi energi dalam jumlah besar setiap tahunnya.
"Resilience yang kita miliki masih bersifat costly resilience karena bergantung pada kemampuan APBN untuk meredam gejolak harga," ujar Abra, Senin (27/4/2026).
Pandangan senada disampaikan Founder dan Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto. Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan BBM sekitar 1 juta barel per hari. Stok BBM dan LPG yang ada pun hanya bertahan 20–25 hari dan bersifat operasional, bukan cadangan strategis layaknya strategic petroleum reserves (SPR) yang dimiliki negara-negara maju.
"Negara-negara yang ketahanan energinya lebih baik seperti yang tergabung dalam IEA punya stok BBM 90 hari net impor. Amerika Serikat punya kurang lebih 600 juta barel SPR dan China lebih dari 1 miliar barel SPR," kata Pri Agung.
Transisi Energi Jadi Pekerjaan Rumah
Pemerintah menegaskan capaian ini tidak membuat Indonesia lengah. Airlangga menyebut pemerintah terus mendorong optimalisasi produksi migas domestik, percepatan pengembangan EBT, perluasan adopsi kendaraan listrik berbasis baterai, serta diversifikasi jalur logistik energi guna memperkuat ketahanan menghadapi risiko geopolitik, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia.
JP Morgan sendiri menilai transisi energi merupakan faktor kunci dalam menekan risiko energi jangka panjang. Penggunaan kendaraan listrik dan pengembangan energi terbarukan disebut sebagai langkah paling efektif untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan gas di masa mendatang.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Garuda Indonesia Raih Predikat Maskapai Paling Tepat Waktu...
Towa News | 27 April 2026, 13.34 WIB
Kemdiktisaintek Bakal Tutup Prodi Tak Relevan, Fokus pada...
Towa News | 27 April 2026, 13.17 WIB
Haji 2026 Makin Mudah: Hampir 10.000 Jemaah Tiba...
Towa News | 24 April 2026, 22.58 WIB
Indonesia Bawa Agenda Perlindungan Pekerja Migran ke Forum...
Towa News | 24 April 2026, 17.22 WIB
Uji Jalan B50 di Sektor Otomotif Dinyatakan Aman,...
Towa News | 24 April 2026, 17.12 WIB