Towa News, Pangkalpinang – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berupaya memperluas akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui program Sekolah Satu Atap. Langkah ini diambil untuk menekan kesenjangan pendidikan yang masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyampaikan hal tersebut di sela-sela kehadirannya pada Wisuda Ke-17 Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung di Pangkalpinang, Kamis (2/7/2026).
"Kami berharap kehadiran Sekolah Satu Atap ini dapat mengatasi berbagai kesenjangan pendidikan di Indonesia," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, program Sekolah Satu Atap merupakan bentuk pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam AstaCita poin keempat, sekaligus amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Program tersebut menyasar daerah 3T agar anak-anak di wilayah tersebut dapat memperoleh pendidikan bermutu tanpa kesulitan berarti.
"Pengembangan Sekolah Satu Atap ini difokuskan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, agar anak-anak bangsa di daerah 3T ini mendapatkan akses pendidikan bermutu dan berkualitas dengan mudah," ujar Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (2/7/2026).
Kesenjangan Akses dan Mutu Pendidikan
Abdul Mu'ti mengungkapkan, kesenjangan pendidikan di Indonesia hingga saat ini tidak hanya berkaitan dengan akses, tetapi juga menyangkut mutu pengajaran yang diterima peserta didik di berbagai daerah.
"Masih banyak anak-anak yang belum memperoleh kesempatan belajar karena keterbatasan ekonomi, kondisi geografis, disabilitas, kemampuan intelektual, maupun faktor sosial dan budaya," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti.
Untuk merespons persoalan tersebut, Kemendikdasmen menjalankan sejumlah program, salah satunya Sekolah Satu Atap yang mengintegrasikan jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA dalam satu kawasan yang sama.
Berpotensi Diterapkan di Pulau-Pulau Kecil Babel
Abdul Mu'ti menyebutkan, skema Sekolah Satu Atap berpeluang diterapkan di pulau-pulau kecil berpenghuni yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Menurutnya, keberadaan sekolah terintegrasi ini akan memudahkan anak-anak di kawasan terpencil untuk mengenyam pendidikan tanpa harus berpindah lokasi antarjenjang.
"Program Sekolah Satu Atap ini bisa dilakukan di pulau-pulau kecil berpenghuni di Provinsi Kepulauan Babel, agar anak-anak di pulau-pulau terpencil dan desa terpelosok ini mendapatkan akses pendidikan yang baik dan berkualitas," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti.
Dengan program ini, Kemendikdasmen berharap pemerataan pendidikan di wilayah 3T, termasuk di Bangka Belitung, dapat terwujud secara bertahap sehingga anak-anak di kawasan tersebut memiliki kesempatan belajar yang setara dengan daerah lain.
Diskusi & Komentar
Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!