Dipublish oleh Tim Towa | 18 Maret 2026, 13:58 WIB
Towa News, Jakarta - Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) terus menggencarkan percepatan hilirisasi subsektor perkebunan nasional sebagai upaya strategis meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus mendongkrak kesejahteraan para pekebun di seluruh Indonesia.
Program ini dijalankan melalui serangkaian langkah konkret, meliputi penyiapan lahan, identifikasi Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL), serta koordinasi intensif bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan terkait.
Pemerintah memusatkan perhatian pada tujuh komoditas perkebunan strategis yang dinilai memiliki potensi besar dalam menciptakan nilai tambah dan memperkuat perekonomian pekebun, yakni tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete.
Untuk mendukung program ini, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp9,5 triliun guna pengembangan ketujuh komoditas tersebut, dengan target pengelolaan seluas 870.000 hektare kebun rakyat pada periode 2025–2027.
Program hilirisasi ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga diproyeksikan mampu menggerakkan ekonomi lokal, khususnya di desa-desa sentra perkebunan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi merupakan langkah krusial agar komoditas perkebunan Indonesia tidak lagi sekadar dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
"Kita ingin komoditas perkebunan memiliki nilai tambah yang lebih besar. Karena itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi agar hasil perkebunan dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang memberikan keuntungan lebih bagi pekebun dan perekonomian nasional," ujar Mentan Amran.
Ia menambahkan, pemerintah terus memastikan kesiapan berbagai aspek program secara menyeluruh — mulai dari lahan, kelompok tani, hingga ekosistem industri — agar hilirisasi dapat berjalan secara berkelanjutan dan berdampak nyata.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Abdul Roni Angkat, mengungkapkan bahwa penyiapan program dilakukan melalui pemetaan potensi lahan serta verifikasi langsung di lapangan.
"Kami turun langsung ke daerah untuk memastikan kesiapan CPCL, memetakan potensi lahan, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pekebun, dan pemangku kepentingan lainnya. Proses ini memang tidak sederhana, namun menjadi langkah penting agar program hilirisasi dapat berjalan optimal," kata Roni.
Roni juga menjelaskan bahwa selain penguatan sisi budidaya, Kementan secara aktif mendorong pengembangan berbagai produk turunan dari komoditas perkebunan, di antaranya gula dari tebu, produk olahan kelapa, cokelat dari kakao, serta beragam produk rempah dari pala dan lada.
Melalui serangkaian langkah strategis tersebut, subsektor perkebunan diharapkan tidak lagi semata berperan sebagai penyedia bahan baku. Pemerintah menargetkan transformasi subsektor ini menjadi industri bernilai tambah tinggi yang mampu membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan jutaan pekebun di seluruh Nusantara.
Sumber: Kementerian Pertanian Republik Indonesia
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Antrean Gilimanuk Mulai Terurai, Pemerintah Kerahkan 35 Kapal...
Towa News | 18 Maret 2026, 21.02 WIB
Komisi V DPR Dukung Pembangunan Jogjakarta Outer Ring...
Towa News | 18 Maret 2026, 18.09 WIB
Empat Prajurit TNI Ditetapkan Tersangka dan Ditahan dalam...
Towa News | 18 Maret 2026, 15.23 WIB
34% Pemudik Tinggalkan Jakarta, Jasa Marga Berlakukan One...
Towa News | 18 Maret 2026, 14.15 WIB
Kajian Pemotongan Gaji Pejabat Masih Dimatangkan, Mensesneg: Sedang...
Towa News | 18 Maret 2026, 13.24 WIB