Dipublish oleh Tim Towa | 17 Desember 2025, 16:23 WIB
Towa News, Jakarta - Industri smartphone global menghadapi tantangan berat akibat kenaikan harga Random Access Memory (RAM) yang diprediksi bakal menekan volume penjualan tahun depan.
Lembaga riset Counterpoint mengubah proyeksi pertumbuhan pasar ponsel pintar untuk 2026. Jika sebelumnya diprediksi stabil, kini diperkirakan akan menyusut 2,1 persen akibat tekanan biaya komponen, khususnya memori.
Situasi diperkirakan belum akan membaik dalam waktu dekat. Counterpoint memperingatkan harga RAM berpotensi melonjak hingga 40 persen lagi sampai kuartal kedua 2026. Kondisi ini langsung mendorong biaya produksi atau bill of materials (BoM) ponsel di seluruh segmen.
Saat ini, BoM ponsel entry-level sudah naik 25 persen dibandingkan awal tahun. Untuk kelas menengah, kenaikan mencapai 15 persen, sementara ponsel flagship relatif lebih ringan sekitar 10 persen. Jika proyeksi kenaikan harga memori hingga kuartal kedua 2026 terealisasi, BoM smartphone bisa kembali meningkat sekitar 8 hingga 15 persen.
Hampir semua produsen diprediksi mengalami penurunan pengiriman. Oppo dan Vivo, yang awalnya diperkirakan tumbuh pada 2026, kini justru diproyeksikan turun. Xiaomi dan Honor bahkan disebut akan terdampak lebih besar dari prediksi awal.
Raksasa seperti Apple dan Samsung juga tidak sepenuhnya kebal dari dampak ini. Namun, Senior Analyst Counterpoint Yang Wang menilai keduanya berada pada posisi yang relatif lebih aman karena memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menyeimbangkan pangsa pasar dan margin keuntungan, seperti dilansir dari GSM Arena, Rabu (17/12).
Di lapangan, produsen smartphone mulai melakukan restrukturisasi lini produk dengan memangkas spesifikasi tertentu untuk menekan biaya. Sejumlah model mengalami penurunan kualitas pada modul kamera, solusi periskop, layar, komponen audio, hingga konfigurasi memori.
Counterpoint juga merevisi prediksi harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) smartphone untuk 2026. Dari yang awalnya diperkirakan naik 3,9 persen, kini melonjak menjadi 6,9 persen. Kenaikan ini mengindikasikan produsen akan lebih agresif mendorong konsumen ke segmen premium yang relatif lebih tahan terhadap kenaikan harga RAM.
Dengan tekanan biaya yang belum mereda, tahun 2026 berpotensi menjadi periode yang menantang bagi industri smartphone, baik bagi produsen maupun konsumen.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.
Meta Siapkan Uji Coba Layanan Berlangganan Premium untuk...
Towa News | 27 Januari 2026, 16.18 WIB
Setelah 35 Tahun, Doraemon Tidak Lagi Tayang di...
Towa News | 06 Januari 2026, 15.39 WIB
Timothy Ronald Diduga Jual Ilusi Kekayaan lewat Edukasi...
Towa News | 06 Januari 2026, 08.20 WIB
Telkomsat Luncurkan Satelit Merah Putih 2 untuk Perkuat...
Towa News | 26 Desember 2025, 11.25 WIB
AS Tunda Pengenaan Tarif Tambahan Chip China hingga...
Towa News | 24 Desember 2025, 11.12 WIB