Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Dipublish oleh Tim Towa | 09 Maret 2026, 11:50 WIB

Bagikan:
X
Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru Mojtaba Khamenei (Dok.Getty Images)

Towa News, Teheran - Majelis Pakar Iran secara resmi menetapkan Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Ulama berusia 56 tahun itu terpilih untuk mengisi kekosongan kepemimpinan setelah mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, wafat akibat serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Penetapan tersebut dilakukan oleh Majelis Pakar Iran, lembaga beranggotakan 88 ulama senior yang memiliki kewenangan memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi negara.

Mojtaba merupakan putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei yang baru saja meninggal sekitar sepekan lalu. Terpilihnya tokoh berlatar belakang garis keras ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa kelompok konservatif masih memegang kendali penuh atas Iran pascakepemimpinan sang ayah.

Salah satu anggota Majelis Pakar, Mohsen Heidari Alekasir, mengungkapkan bahwa pemilihan kandidat didasarkan pada wasiat mendiang Khamenei yang menekankan bahwa pemimpin tertinggi Iran haruslah sosok yang "dibenci oleh musuh."

"Bahkan Setan Besar telah menyebut namanya," kata Alekasir , Senin (9/3).

Pernyataan itu dinilai merujuk langsung pada Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya menyatakan bahwa Mojtaba merupakan pilihan yang tidak dapat diterimanya.

Dalam perjalanan kariernya, Mojtaba membangun pengaruh secara tidak langsung di bawah kepemimpinan ayahnya. Ia dikenal memiliki kedekatan erat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), sekaligus berperan sebagai "penjaga gerbang" dalam lingkaran kekuasaan sang ayah, menurut sumber yang memahami latar belakangnya.

Mojtaba juga diketahui selama ini menentang kelompok reformis yang berupaya menjalin hubungan dengan Barat, termasuk dalam isu pembatasan program nuklir Iran.

Sebagai Pemimpin Tertinggi, Mojtaba kini memegang otoritas tertinggi dalam pengambilan keputusan negara, mencakup kebijakan luar negeri hingga program nuklir Iran. Negara-negara Barat selama ini mendesak Teheran agar menghentikan pengembangan senjata nuklir, sementara Iran bersikukuh bahwa program tersebut semata-mata ditujukan untuk keperluan sipil.

Di dalam negeri, Mojtaba diprediksi akan menghadapi tekanan dari warga Iran yang selama ini menunjukkan keberanian melakukan aksi massa demi menuntut kebebasan yang lebih besar, meski aparat keamanan kerap meresponsnya dengan tindakan represif.

Sosok Mojtaba sendiri tidak lepas dari kontroversi. Lahir pada 1969 di kota suci Mashhad, ia tumbuh di masa ayahnya aktif memimpin perlawanan terhadap rezim Shah. Ia pernah bertugas dalam militer Iran semasa Perang Iran-Irak, kemudian menempuh pendidikan keagamaan di Qom, pusat pembelajaran Islam Syiah.

Mojtaba menyandang gelar Hojjatoleslam, satu tingkat di bawah pangkat Ayatollah yang pernah disandang mendiang ayahnya. Sejumlah kritikus menilai kualifikasi keagamaannya belum memadai untuk menduduki jabatan tertinggi tersebut. Penentangan juga datang dari mereka yang menolak praktik politik dinasti di negara yang pada 1979 justru menggulingkan monarki yang didukung AS.


Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video