Perang Meluas, Iran Laporkan 1.230 Orang Meninggal Akibat Gempuran AS-Israel

Dipublish oleh Tim Towa | 06 Maret 2026, 13:43 WIB

Bagikan:
X
Perang Meluas, Iran Laporkan 1.230 Orang Meninggal Akibat Gempuran AS-Israel
(dok.AP)

Towa News, Teheran - Korban jiwa akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus bertambah. Yayasan Martir dan Urusan Veteran Iran mengumumkan sedikitnya 1.230 orang telah gugur sejak serangan besar-besaran pertama kali dilancarkan pada Sabtu (28/2/2026).

Angka tersebut diumumkan melalui situs resmi lembaga yang berafiliasi dengan pemerintah Iran itu, sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua pada Kamis (5/3/2026). Selain korban meninggal, Kementerian Kesehatan Iran mencatat 6.186 orang mengalami luka-luka. Dari jumlah itu, 2.054 orang masih dirawat di rumah sakit, 3.545 lainnya telah dipulangkan, dan 552 orang mendapat perawatan medis di lokasi kejadian.

Dalam gelombang serangan pertama, AS dan Israel berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah komandan militer senior, termasuk Menteri Pertahanan Iran Amir Nasirzadeh.

Serangan Sasar Lokasi Sipil

Pemerintah Iran menuding AS dan Israel tidak hanya menyasar instalasi militer, melainkan juga menghantam puluhan lokasi sipil. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut sedikitnya 33 lokasi sipil telah diserang, di antaranya rumah sakit, sekolah, kawasan permukiman, Teheran Grand Bazaar, kompleks Istana Golestan, hingga Stadion Azadi berkapasitas 12.000 penonton.

Kepala Bulan Sabit Merah Iran mencatat kerusakan meliputi 3.090 rumah, 528 pusat komersial, 13 fasilitas medis, dan 9 posko Bulan Sabit Merah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut mengonfirmasi adanya serangan terhadap fasilitas kesehatan.

"WHO telah memverifikasi 13 serangan terhadap layanan kesehatan di Iran dan satu di Lebanon," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers, Jumat (6/3/2026). Ghebreyesus menambahkan bahwa serangan tersebut mengakibatkan empat petugas kesehatan tewas dan 25 lainnya cedera.

Seorang warga sipil Teheran, Mohammadreza (36), menggambarkan situasi yang semakin mencekam. "Mereka menyerang bagian utara Teheran. Kamis tidak punya tempat tujuan. Ini seperti zona perang. Bantu kami," ujarnya dalam sambungan telepon kepada Al Jazeera, Jumat (6/3/2026).

AS Klaim Rudal Iran Melemah 90 Persen

Di sisi lain, AS mengklaim operasi militernya berjalan efektif. Komandan Pusat Komando AS (CENTCOM) Brad Cooper menyatakan kekuatan persenjataan Iran telah melemah signifikan.

"Serangan rudal balistik telah menurun 90 persen sejak hari pertama. Serangan drone telah menurun 83 persen sejak hari pertama," kata Cooper dalam konferensi pers sebagaimana dikutip dari Gulf News, Jumat (6/3/2026).

Cooper juga mengungkapkan bahwa dalam 72 jam terakhir, pesawat pembom siluman B-2 milik AS telah menyerang hampir 200 target di dalam wilayah Iran, termasuk di sekitar Teheran, menggunakan puluhan bom penetrator seberat 907 kilogram.

Kepala Pentagon Pete Hegseth pun menegaskan keseriusan AS dalam konflik ini. "Kami baru saja mulai berperang dan berperang secara tegas," ujar Hegseth, Jumat (6/3/2026).

Iran Balas dan Cari Pemimpin Baru

Iran tidak tinggal diam. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan aset militer Israel serta pangkalan AS di kawasan Teluk. Meski sebagian besar berhasil dicegat, beberapa di antaranya dilaporkan mengenai sasaran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak memiliki pilihan selain membela diri. Dalam pesan kepada pemimpin regional, Pezeshkian menekankan bahwa Iran menghormati kedaulatan negara-negara lain.

Sementara itu, proses pencarian pengganti Khamenei tengah berlangsung. Anggota Dewan Wali dan Majelis Ahli, Ayatollah Ahmad Khatami, menyebut Iran hampir mencapai keputusan. "Pemimpin Tertinggi akan diidentifikasi pada kesempatan terdekat. Kami mendekati kesimpulan; namun, situasi di negara ini adalah situasi perang," kata Khatami kepada televisi pemerintah Iran, Jumat (6/3/2026).

Sejumlah media Israel dan Barat menyebut Mojtaba Khamenei, putra mendiang pemimpin tertinggi, sebagai kandidat terkuat. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Iran.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video