Towa News, Jakarta - Jumlah penumpang kereta api di Indonesia, termasuk kereta bandara, MRT, LRT, dan kereta cepat Whoosh, mencapai 52,1 juta orang pada Juli 2026, naik 5,21 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Data ini dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Berita Resmi Statistik pada Selasa (1/9/2026).
Menurut data dari BPS, mayoritas penumpang berasal dari commuter line Jabodetabek yang mencapai 32,5 juta orang atau 62,29 persen dari total penumpang kereta nasional bulan itu.
Dari sisi pertumbuhan, kereta cepat Whoosh mencatat kenaikan tertinggi sebesar 10,61 persen, diikuti LRT (7,53 persen), MRT (6,77 persen), dan komuter Jabodetabek (6,56 persen). Sebaliknya, wilayah Jawa non-Jabodetabek dan Non-Jawa masing-masing mengalami penurunan penumpang sebesar 0,13 persen dan 2,50 persen dibandingkan Juni 2026.
"Peningkatan jumlah penumpang terjadi di wilayah/rute, yaitu komuter Jabodetabek, kereta bandara, MRT, LRT, dan kereta cepat Whoosh," demikian pernyataan BPS dalam rilis resminya.
Di sektor angkutan barang, volume muatan kereta api pada Juli 2026 tercatat 6,5 juta ton, naik 1,46 persen dari bulan sebelumnya. Wilayah Sumatera mendominasi dengan kontribusi 5,3 juta ton atau 81,47 persen dari total barang yang diangkut kereta, meski pertumbuhannya hanya 0,30 persen. Adapun wilayah Jawa non-Jabodetabek tumbuh lebih tinggi, yakni 6,90 persen.
Secara kumulatif Januari–Juli 2026, jumlah penumpang kereta api mencapai 336,4 juta orang, naik 7,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Seluruh rute mencatat pertumbuhan positif, dengan LRT sebagai yang tertinggi (18,12 persen) dan Whoosh yang nyaris stagnan di angka 0,01 persen. Sementara itu, volume barang kumulatif kereta sebanyak 41,3 juta ton, justru turun tipis 0,71 persen secara tahunan akibat penurunan di wilayah Sumatera sebesar 2,54 persen.
(Sumber: Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik No. 90/09/Th. XXIX, 1 September 2026)
Diskusi & Komentar
Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!