Petugas Haji Perempuan Meningkat Jadi 33 Persen, Tertinggi dalam Sejarah Penyelenggaraan Haji Indonesia

Dipublish oleh Tim Towa | 30 Januari 2026, 13:33 WIB

Bagikan:
X
Petugas Haji Perempuan Meningkat Jadi 33 Persen, Tertinggi dalam Sejarah Penyelenggaraan Haji Indonesia
(Dok. Kementerian Haji dan Umrah)

Towa News, Jakarta - Penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi mencatatkan kemajuan signifikan dalam komposisi petugas. Proporsi petugas haji perempuan kini mencapai 33 persen, rekor tertinggi sejak Indonesia menyelenggarakan ibadah haji.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menyambut positif perkembangan ini. Menurutnya, peningkatan jumlah petugas perempuan bukan semata angka, tetapi upaya mewujudkan layanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan jemaah.

"Alhamdulillah, tahun ini komposisi petugas perempuan sudah mencapai 33 persen, tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan haji Indonesia," kata Arifatul saat memberikan materi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PPIH Arab Saudi Tahun 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (28/1), seperti dilansir dari Kementrian Haji dan Umrah.

Langkah ini dinilai penting mengingat mayoritas jemaah haji Indonesia adalah perempuan. Data menunjukkan, 55,4 persen dari total jemaah haji Indonesia berjenis kelamin perempuan, dengan sebagian besar berusia lanjut.

Pengalaman Arifatul sebagai Amirul Hajj 2025 menjadi pertimbangan utama. Ketika itu, minimnya petugas perempuan menyebabkan sejumlah kebutuhan jemaah perempuan tidak ditangani optimal.

"Banyak persoalan yang memang lebih tepat ditangani petugas perempuan, seperti fikih perempuan, pendampingan di kamar, sampai situasi darurat yang menyangkut privasi jemaah," ungkapnya seperti dikutip dari situs Kementerian Haji dan Umrah.

Arifatul juga mengusulkan perbaikan komposisi penghuni kamar agar lebih seimbang. Pada musim haji sebelumnya, ditemukan kamar yang seluruh penghuninya lansia sehingga tidak ada yang mampu membantu ketika ada yang sakit.

"Kedepan, kami mengusulkan komposisi kamar yang lebih seimbang, ada jemaah yang lebih muda agar bisa saling membantu. Ini terlihat sederhana, tapi dampaknya besar bagi kenyamanan dan martabat jemaah lansia," tuturnya dalam keterangan Tertulis Kemen haji dan Umrah.

Menurut Arifatul, konsep haji ramah perempuan dan lansia mencerminkan peradaban bangsa. Negara harus hadir penuh memastikan warganya beribadah dengan aman dan bermartabat di Tanah Suci.

Kementerian PPPA saat ini masih membahas pedoman khusus layanan perempuan bersama pemangku kepentingan terkait untuk disempurnakan dalam regulasi haji mendatang.

"Yang paling penting, pelayanan itu berangkat dari hati. Empati harus menjadi dasar, karena jemaah yang kita layani adalah tamu Allah sekaligus warga negara yang harus kita jaga martabat dan keselamatannya," ujar Arifatul seperti dikutip Kemen haji dan Umrah.

Direktur Bina Petugas Haji Reguler Kementerian haji dan umrah, Chandra Sulistio Reksoprodjo, menyebutkan total petugas haji perempuan tahun ini mencapai sekitar 755 orang, mencakup petugas kloter dan non-kloter.

"Angka ini menjadi tonggak penting dalam upaya menghadirkan pelayanan haji yang lebih inklusif, manusiawi, dan responsif terhadap kebutuhan jemaah," tandas Chandra.

Peningkatan jumlah petugas haji perempuan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan kenyamanan jemaah, khususnya bagi perempuan dan lansia yang mendominasi keberangkatan haji Indonesia tahun ini.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video