RI Perkuat Strategi Pembiayaan 2026, Fokus pada Pasar Domestik dan Diversifikasi Valuta Asing

Dipublish oleh Tim Towa | 21 Mei 2026, 13:01 WIB

Bagikan:
X
RI Perkuat Strategi Pembiayaan 2026, Fokus pada Pasar Domestik dan Diversifikasi Valuta Asing
(dok.istimewa)

Towa News, Jakarta - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat strategi pembiayaan negara tahun 2026 melalui tiga pilar utama: pendalaman pasar obligasi domestik, diversifikasi sumber pendanaan, dan pengelolaan utang yang prudent. Hal tersebut diungkapkan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam forum Indonesia Credit Spotlight 2026 di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Juda memaparkan bahwa strategi pembiayaan tahun ini bertumpu pada tiga prinsip pokok. "Strategi pembiayaan 2026 kami memiliki tiga prinsip. Pertama, kami memprioritaskan utang domestik 70 hingga 75 persen dalam rupiah. Kedua, campuran mata uang yang cermat 25 hingga 30 persen dalam mata uang asing. Ketiga, pengelolaan active liability," ujar Wamenkeu Juda seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Keuangan, Kamis (21/5/2026).

Minat investor terhadap instrumen surat berharga negara (SBN) Indonesia dilaporkan tetap solid. Surat Utang Negara (SUN) tercatat mengalami kelebihan permintaan hingga 2,4 kali dari target, sementara Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) bahkan mencapai 2,8 kali. Pada April lalu, pasar SBN domestik juga mencatatkan arus masuk bersih sebesar Rp13,4 triliun.

Di pasar internasional, Indonesia menorehkan sejumlah pencapaian sepanjang 2026. Pemerintah berhasil menerbitkan sukuk global senilai US$2 miliar dengan tingkat permintaan hampir dua kali lipat dari penawaran, serta menerbitkan Samurai Bond senilai ¥172 miliar di pasar Jepang.

Ke depan, pemerintah juga tengah mempersiapkan penerbitan obligasi Panda di pasar China dan obligasi Kangaroo di pasar Australia. Langkah ini ditempuh guna memperluas basis investor, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Juda menekankan bahwa penguatan strategi pembiayaan di tengah ketidakpastian ekonomi global dijalankan melalui koordinasi lintas lembaga secara ketat. "Kami menerapkan active liability, pengelolaan kas yang cermat, dan pengungkapan tepat waktu. Kami juga berkoordinasi erat dengan Bank Indonesia dan OJK di bawah Forum KSSK. Jadi, kebijakan moneter, prudensial, dan kebijakan pasar modal semuanya berjalan seiring," pungkas Wamenkeu Juda sebagaimana dilansir dari laman Kemenkeu.go.id, Kamis (21/5/2026).

Sumber: Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Towa.co.id.

Ikuti Sosial Media Kami:

X Logo Snack Video