Towa News, Jakarta - Nilai ekspor tenun ikat Indonesia pada semester I-2026 mencapai US$34.000, naik 150 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$13.600. Sepanjang 2025 nilai ekspor komoditas tersebut tercatat US$88.000.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan pelestarian ulos tidak boleh berhenti pada upaya menjaga keberadaannya, tetapi juga harus memberi manfaat ekonomi bagi perajin, terutama perempuan.
"Kita tidak cukup hanya menjaga agar ulos tetap ada, tetapi juga harus memastikan agar ulos tetap hidup, digunakan, berkembang, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya," kata Sarmuji, Rabu (14/10).
Pernyataan itu disampaikan terkait Pameran Tenun Ulos yang digelar Kementerian Perindustrian bersama Forum Konferensi Perempuan Huria Kristen Batak Protestan (FKP-HKBP) pada 13-15 Oktober 2026. Pameran bertema "Menenun Harapan, Merajut Kemandirian" itu menampilkan produk 50 IKM dan UMKM binaan FKP-HKBP, mulai dari kain ulos, busana, tas kulit, aksesori, hingga kuliner khas Batak.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 mencatat 43 sentra tenun ulos di Sumatera Utara, antara lain di Tapanuli Utara, Toba, Samosir, dan Simalungun. Menurut Sarmuji, basis produksi itu menunjukkan IKM tenun ulos berpotensi tumbuh untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita mengakui industri tenun tradisional masih menghadapi tantangan, seperti keberlanjutan keterampilan menenun, regenerasi perajin, inovasi desain, dan peningkatan kualitas produk.
Reni menyebut produk ulos yang telah bersertifikat Indikasi Geografis adalah Tenun Ulos Ragidup Silindung dari Tapanuli Utara.
Pembukaan pameran dihadiri Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, dan Ketua Umum FKP-HKBP Dra. Sandra Sidabutar.
Sumber: Kemenperin
Diskusi & Komentar
Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!