MEMUAT BERITA...

Industri Pengolahan Sumbang 82 Persen Ekspor RI, Nikel Jadi Bintang Utama

Tim Towa - Towa News
Rabu, 02 September 2026 14:11 WIB
Industri Pengolahan Sumbang 82 Persen Ekspor RI, Nikel Jadi Bintang Utama
Ilustrasi Tambang nikel di hasilkan oleh AI(dok.Towa)

Towa News, Jakarta - Sektor industri pengolahan tercatat sebagai penopang utama kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor nonmigas dari sektor ini mencapai US$137,26 miliar, tumbuh 7,16 persen dibanding periode yang sama tahun 2025, dan menyumbang 82,18 persen dari total ekspor nasional.

Dalam Berita Resmi Statistik No. 88/09/Th. XXIX yang dirilis Selasa (1/9/2026), BPS menyebut kontribusi sektor industri pengolahan terhadap total ekspor bahkan meningkat dibanding tahun lalu, yang saat itu berada di angka 80,08 persen. Kenaikan pangsa ini terutama disumbang oleh melesatnya ekspor nikel dan barang turunannya.

"Ekspor nonmigas Indonesia menurut sektor industri pengolahan meningkat 7,16 persen dibanding Januari–Juli 2025 yang disumbang oleh meningkatnya ekspor nikel," tulis BPS dalam laporannya.

Dua Sektor Lain Justru Melemah

Berbeda dengan industri pengolahan, dua sektor lainnya justru mencatatkan penurunan. Ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan anjlok 19,50 persen akibat merosotnya ekspor kopi, sementara sektor pertambangan dan lainnya turun 2,43 persen yang disebabkan oleh menurunnya ekspor bijih tembaga.

Meski secara kumulatif tujuh bulan sektor pertambangan melemah, kinerja bulanannya pada Juli 2026 justru menguat. Dibandingkan Juli 2025, ekspor pertambangan dan lainnya naik 14,85 persen yang disumbang oleh peningkatan ekspor batubara, sedangkan ekspor industri pengolahan pada bulan yang sama naik 6,03 persen ditopang kenaikan ekspor kimia dasar anorganik.

Nikel Jadi Komoditas dengan Pertumbuhan Tertinggi

Di antara sepuluh komoditas ekspor nonmigas utama, nikel dan barang daripadanya mencatat lonjakan tertinggi sepanjang Januari–Juli 2026, yakni 49,84 persen atau senilai US$2,41 miliar menjadi US$7,24 miliar. Sementara itu, hanya logam mulia dan perhiasan/permata yang mengalami penurunan signifikan, yakni 40,08 persen atau senilai US$2,59 miliar.

Komoditas lain yang turut mencatatkan kenaikan nilai ekspor antara lain bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani/nabati, besi dan baja, mesin dan perlengkapan elektrik, hingga alas kaki. Secara keseluruhan, sepuluh golongan barang nonmigas utama ini menyumbang 64,39 persen dari total ekspor nonmigas nasional sepanjang Januari–Juli 2026.

Sumber: Berita Resmi Statistik BPS No. 88/09/Th. XXIX, 1 September 2026.

Bagikan Artikel:

Diskusi & Komentar

Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!

Masuk untuk Bergabung ke Diskusi