Pemerintah Genjot Cetak Sawah di Papua Selatan, Target Jadi Lumbung Pangan Nasional

Tim Towa - Towa News
Senin, 06 Juli 2026 16:32 WIB
Pemerintah Genjot Cetak Sawah di Papua Selatan, Target Jadi Lumbung Pangan Nasional
(dok. badkom RI )

Towa News, Merauke – Pemerintah mempercepat pembangunan kawasan pertanian modern di Papua Selatan sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional. Upaya ini mencakup pembukaan lahan atau cetak sawah, penyediaan alat dan mesin pertanian, hingga pembangunan infrastruktur pascapanen.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan program cetak sawah tersebut dijalankan dengan tetap mengutamakan kepentingan warga setempat, tanpa mengubah status kepemilikan lahan.

"Program cetak sawah ini merupakan aspirasi masyarakat dan seluruh lahannya tetap menjadi milik masyarakat," kata Amran seperti dikutip dari keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Minggu (5/7).

Papua Selatan Jadi Wilayah Pengembangan Terbesar

Papua Selatan kini menjadi pusat perluasan kawasan pangan baru di tingkat nasional. Secara keseluruhan, pemerintah telah menggarap 83.030 hektare lahan cetak sawah dan 54.399 hektare lahan optimalisasi di seluruh wilayah Papua.

Dari jumlah tersebut, Papua Selatan menyumbang porsi terbesar, yakni 48.934 hektare lahan cetak sawah dan 53.499 hektare lahan optimalisasi, atau mendekati 100 ribu hektare kawasan produksi yang disiapkan sebagai basis pangan masa depan Indonesia.

Guna mempercepat realisasi proyek ini, pemerintah mengucurkan anggaran senilai Rp1,3 triliun pada tahun 2026. Dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan benih unggul, alat dan mesin pertanian, pembangunan Rice Milling Unit (RMU), mesin pengering (dryer), gudang penyimpanan, serta infrastruktur pendukung lainnya.

"Pemerintah hadir memberikan dukungan melalui pembangunan infrastruktur, alat dan mesin pertanian, benih, pendampingan, hingga menjamin hasil panen petani terserap dengan harga yang menguntungkan sesuai arahan Presiden," ujar Amran seperti dikutip dari keterangan resmi Bakom RI, Minggu (5/7).

Teknologi Modern Dongkrak Produktivitas

Transformasi menuju pertanian modern di Merauke mulai membuahkan hasil nyata melalui penggunaan traktor, drone pertanian, rice transplanter, dan combine harvester. Produktivitas gabah yang sebelumnya berkisar 3 ton per hektare kini naik menjadi 4 hingga 7 ton per hektare.

Selain itu, indeks pertanaman yang saat ini sudah mencapai dua kali musim tanam per tahun ditargetkan bertambah menjadi tiga kali tanam guna mendorong produksi pangan nasional secara berkelanjutan.

Pendapatan Petani Naik hingga 300 Persen

Peningkatan produktivitas tersebut turut mengangkat taraf ekonomi para petani. Data pemerintah daerah mencatat pendapatan petani di kawasan pengembangan melonjak hingga 300 persen setelah menerapkan program cetak sawah dan mekanisasi pertanian.

Antusiasme warga pun terus tumbuh, ditandai dengan usulan penambahan sekitar 2.000 hektare lahan cetak sawah baru untuk memperluas area produksi pangan di Papua Selatan.

Pemerintah turut menjamin kepastian pasar bagi hasil panen petani melalui peran Perum BULOG sebagai penyerap gabah dan beras sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk mendukung penyerapan tersebut, pemerintah berencana membangun gudang BULOG di Merauke berkapasitas awal 3.000 ton yang dapat ditingkatkan hingga 5.000 ton, lengkap dengan fasilitas dryer dan unit pengolahan beras.

Di akhir keterangannya, Amran mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan pangan sekaligus sumber kesejahteraan masyarakat.

"Mari kita bekerja keras, berkolaborasi, dan menjadikan bertani sebagai jalan menuju kesejahteraan. Bertani, Sejahtera," tutup Amran seperti dikutip dari keterangan resmi Bakom RI, Minggu (5/7).

Pemerintah memproyeksikan nilai ekonomi kawasan pertanian Papua Selatan yang saat ini sekitar Rp1,3 triliun dapat melonjak hingga Rp13 triliun per tahun apabila produktivitas mencapai 7 ton per hektare dan indeks pertanaman meningkat menjadi tiga kali tanam setiap tahunnya.

Bagikan Artikel:

Diskusi & Komentar

Belum ada diskusi di artikel ini. Jadilah yang pertama!

Masuk untuk Bergabung ke Diskusi